Dan Tiang pun Menangis

-->
Ketika orang mati, karena caci yang tak pasti,
Tak terkecuali orang sakit yang meng egoisi.
Ia bukan tak mengerti,tapi tak mau mengerti.
Jalan hati, arti dan koreksi.


Namanya Tiang… Dia adalah seorang murid SMA berambut panjang, bamata sipit dan dilengkapi dengan kulit putih, namun dia punya masalah dengan dirinya.. pertanyaan besar akan dirinya…. dia belum pernah menangis lagi sejak berumur Sembilan Tahun.
………….



“Nama lengkap?” Tanya seorang dari klub jurnalis di sekolah.
“Tiang. Tiang aja”
“Ah… masa Cuma Tiang..?” Goda nya.
“Ya panjang-panjangin aja kalo gitu” Ucap Tiang nyengir.
Lelaki itu melihat tawa nya… tawanya yang lembut dan tulus.. dia berhenti mencatat, seolah lupa akan tugasnya mewawancarai Tiang dan malah menatapnya kian dalam.
“Maaf Kak, kalo gak salah, masih ada yang harus di wawancara kan? itu daftarnya masih panjang” Tiang lagi-lagi berucap sambil tersenyum.
Seakan sadar dari alam lain, lelaki itu membalas senyuman Tiang. “Oh iya, nama saya Sinar” dia menyodorkan sebelah tangannya ke arah Tiang yang segera disambut hangat.
“Jadi Tiang, apa yang membuatmu menyukai puisi?”
Tiang Tersenyum
“…….”
“Karena saya adalah kumpulan puisi bebas, tanpa banyak batas ini itu”
“Jadi itu yang membuatmu memenangkan lomba menulis puisi pada suatu majalah ternama? ada tips lain?” Ucap lelaki itu dengan mata yang masih menatap Tiang dengan baik.. malah.. sangat baik.
“Bukan Kak… yang membuat Tiang menang itu Tuhan”
“Bukan itu maksud saya, saya tahu bahwa semua hal pasti kehendak Tuhan, namun sekarang saya sedang menginginkan beberapa tips atau nasihat kecil untuk orang lain yang ingin menjadi seperti kamu” Lelaki itu tampak serius kini.
“Tiang bukanlah apa-apa, Tiang bukan Rumah yang Indah, Tiang bukanlah gedung pencakar langit yang dikagumi banyak orang.. Tiang hanyalah Tiang.. bentuk awal dari sebuah bangunan adalah dari beton-beton kecil, dan pada saat selesai, nama Tiang akan terlupa begitu saja”
Mata Sinar menyipit begitu mendengar ucapan tiang..
Tiang melanjutkan Kata-katanya.
“Berbeda dengan Sinar.. kapanpun ianya tak akan terlupa, maka berbeda pula perlakuan manusia terhadapnya, terlihat.. tapi tak tergapai..tak terdekati, sungguh sesuatu yang kontras dengan nama Tiang bukan?”
Sinar menunduk.
“Boleh saya pergi kak? ini waktu saya untuk istirahat dan sepertinya wawancara ini selesai… kan?”
“Tentu saja, tapi bila ada sesuatu…..”
“Panggil saja saya dari Mikrofon sekolah lagi Kak”
Tiang pamit sambil tersenyum, begitu pula sinar. Namun sampai akhirnya Tiang membalikkan tubuhnya pun, Sinar masih menatapnya dengan baik… hingga Tiang benar-benar menghilang dari pandanganya.


Tiang membuka bekalnya di kantin sekolah yang ramai. lalu tiang melihat ada seorang perempuan yang menangis terisak entah kenapa, dengan refleks Tiang memberinya pandangan benci dan melemparkan bekalnya dan segera pergi menuju taman belakang sekolah.

Tiang lalu duduk bersila sambil bersandar di bawah pohon rindang di belakang sekolahnya, itu adalah  spot favorite Tiang, karena tak ada yang mengusiknya di situ, pada jam istirahat, kebanyakan siswa menghabiskan waktu di kantin. tapi Tiang Senang dengan tempat ini.. ia masih bersandar di bawah pohon rindang sambil bersila.. mengingat kejadian beberapa menit yang lalu….aku benci orang yang menangis.. sangat benci.. bukan… bukan karena aku benci orang yang manja, tetapi.. aku menyesali aku yang tak bisa meneteskan airmata.. bahkan walau hanya untuk berkaca-kaca.
“Orang salah bila menilai orang yang tak menangis adalah kuat, harus kuakui, bahwa mereka yang berani memperlihatkan wajah asli mereka adalah luar biasa,, daripada manusia-manusia tengil yang menahan tangis kemudian berlari. Di dunia ini ada banyak sekali jenis manusia, yang saya tahu hanya sedikitnya wahai angin temanku.. udara nafasku… 1. manusia yang selalu menangis dan menyesali jalan hidup, 2. manusia yang berpura-pura kuat lalu menangis, dan yang ke- 3. manusia sepertiku… manusia yang kehabisan cara untuk menangis”
Tiang kembali menutup matanya… merasakan hawa sejuk dari bawah pohon yang rindang, dan mengabaikan jam pelajaran yang paling dibencinya. Tiang masih menutup matanya masih tersenyum, dan masih memikiran cara untuk memangis. karena bagaimanapun, dia yakin, dengan menangis, kekesalannya selama ini sedikitnya akan berkurang dengan keluarnya titik basah yang mengalir begitu saja dari kedua matanya.
“Banyak kata-kata dimuntahkan oleh para pemain sandiwara di sini, lalu apa yang harus aku lakukan? terlalu banyak teka-teki di luar penglihatanku.. aku tahu.. aku benar-benar tahu.. pasti ada banyak pertanyaan yang seharusnya ada di benakku… tapi apa?? sebegitu bodohnya kah aku? sehingga pertanyaan yang bergulat dalam kapalaku saja aku tak tahu? kekesalan demi kekesalan menghantui garis imajiner manusia sepertiku, ibaratkanlah aku ini rudal, maka aku siap untuk meledak”
Nafas Tiang sangat teratur bagai melodi yang tersusun rapi dan berbentuk not balok, sehingga terlihatnya pun indah… ya…. Tiang sungguh menyadarinya…ada yang selalu memerhatikan Tiang dari jauh… Sinar..
Bel pelajaran selanjutnya berbunyi, Tiang bergabung dengan siswa lain, ia tersenyum dan bercanda dengan gelegak tawa yang meluluhkan setiap orang untuk menyayanginya, tanpa tahu siapa dia, tanpa tahu bagaimana keadaan Menltanya. Tanpa Tahu………. Apapun Tentangnya….  Tapi Tiang Tak terlalu memperdulikan hal itu..
“Tiang” Ucap seorang Lelaki.
Tiang menoleh dan tersenyum.
“Tiang, bisa bicara sebentar? anu… itu.. wawancara…”
Tiang menghampiri Lelaki bermata Sipit yang beberapa detik lalu memanggil namanya. dan dengan Lagak seperti ingat akan sesuatu.
“Oh…. iya, tapi jika kakak tidak keberatan, bisa tolong kakak minta izin pada Guru saya sekarang? saya tidak ingin bolos dua pelajaran penuh untuk hari ini”
Sinar berjalan cepat menuju kelas Tiang,  sungguh… ia benar-benar ingin berbincang dengan Tiang Saat itu… Lalu, beberapa menit kemudian dia kembali.
“Kita bisa bicara di mana, Tiang?”
“Saya rasa, Taman belakang sekolah adalah tempat sempurna untuk berbincang dengan tenang”


di belakang sekolah

Tiang langsung mengambil posisinya duduk bersandar sambil bersila di bawah pohon rindang, tempat favorit nya. apa yang dilakukan Tiang, kini diikuti oleh Sinar yang membawa pena dan catatan kecil.
Sinar memainkan Pena nya, ia menjepit dan menggoyangkan Pena mengikuti hatinya yang tak karuan… bising.. hampir tak tenang… ia menarik nafas… dan memutuskan untuk Bicara.
“Tiang, sebenarnya saya ingin berbicara tentang……”
“Saya tahu, bukan untuk kebutuhan jurnalis kan?”
“Ya”
“Lalu………?”
“Saya bingung melihatmu berbicara sendiri di tempat ini… lalu kadang kamu menyandarkan diri sambil memejamkan mata di sini, seakan ini adalah tempat pribadimu, apa kamu mencari inspirasi dari sini? kamu sedang mencari inspirasi?”
Tiang tertawa. tapi ia tetap bersandar di bawah pohon rindang itu sambil bersila.
“Kak, saya sedang menyesali diri saya”
“Menyesali diri?”
“Ya… karena saya hanyalah Tiang”
“Lalu kenapa? apa yang salah dengan Tiang?”
“Karena Tiang tak berhak untuk menangis…………. karena tiang harus selalu berdiri tegak dengan wajah tegar… karena tiang tidak memiliki…… cahaya……..”
“Tiang, sungguh, setiap orang berhak menangis, dan kamu… kamu terlalu pesimis untuk menangis…. Tiang.. kamu memang tegar.. kamu memang berdiri tegak.. kamu bisa melihat ke depan karena kamu memiliki…..aku… Sinar…”
Tiang menengadah dengan tersentak, namun tetap santai.
“Saya ingin kamu memiliki ini, Tiang.. bacalah ini dari sudut pandangmu, karena ini milikmu, dan saya membuat ini dari sudut pandangmu.. saya berusaha menjadi kamu,…. saya pamit dulu, ada yang harus saya kerjakan”
Tiang mengagguk.
Ketika Sinar menjauh, ia membuka Selembar kertas yang diberikan oleh Sinar.
saya rasa puisi ini benar-benar tercipta untukmu, Tiang…  kamu adalah gadis yang paling manusiawi yang pernah saya temui

Entah di mana awalnya


Aku udah muak sama semua
Aku udah bosen bilang kalau dunia ini aneh
Aku udah bosen bilang kalau kenyataan udah dimanipulasi manusia-manusia brengsek

“Hiduplah seperti air yang mengalir nak…”
Hahahha
Maksudmu mengalir lalu mampet?

“Air itu kuat nak… walaupun terhalang… ianya akan mengalir lagi”
Tutup mulutmu.

“Aku tahu kau itu kuat nak… kau bagaikan samudera”
Bisa berhenti bicara sok bijak?

“Matamu berair nak….. menangislah di pundakku”

Jangan samakan aku dengan air….
Karena air terlalu misterius
Jangan samakan aku dengan angin
Karena angin tak berhak untuk diam
Jangan samakan aku dengan matahari
Karena matahari tak berhak istirahat..

Samakanlah aku
Dengan aku
Di mana aku yang berego tinggi mulai meredam sedikit ego ku
Di mana aku yang terlalu pemendam mulai sedikit mengangkat muka

“Hatimu akan kuat……… entah bagaimana perbandingannya



Dan.. Tiang pun.. menangis di bawah pohon rindang di belakang sekolah diiringi alunan musik sang angin.





--Hope u'll like it ^^--

(regards__>>Rin)




0 Comment