Antara Aku, Logika dan Rasa
Maka aku hanya bisa melakukan sebatas mampuku. and i mean it.

Sering aku merasa muak dengan segala keterbatasanku.
karna imajinasi ku terlalu tinggi, aku selau ingin melakukan hal yang kadang mustahil kulakukan. mereka berkata apa yang kulakukan adalah sesuatu yang hebat untuk ukuran wanita, dan seumuranku. tapi tidak menurutku.

aku punya target, dan belum ada satu target pun yang terpenuhi. selalu saja beberap level di bawah apa yang kutargetkan. maka ini belum dapat disebut hebat atau berhasil. menurutku. mencapai titik kepuasan itu sulit. sungguh.

Siapapun yang melihatku, pasti bilang bahwa aku bukan seorang dengan tipe pekerja keras.
mungkin iya. karena kalau aku seorang pekerja keras.. setidaknya aku pasti memenuhi 50% ekspektasiku.

terlepas dari segala hal. aku harus bersyukur. ya. harus.
namun aku terlalu egois untuk puas dengan apa yang aku kerjakan.
tapi rasa syukur tidak perlu diiringi rasa puas, kan? *baru sadar

kadang aku lelah, bahkan ketika aku hendak diberi sugesti *dihipnotis* saja, tidak bisa. mereka selalu gagal meng hipnotisku.
kunci dari hipnotis adalah rileks. itu bukan hal mudah bagiku.
otakku terus saja berfikir... entah berfikir apa, dan nampaknya aku terlalu logis.

aku pikir, harus ada orang yang melatih nilai rasa. karena aku sebagai seorang wanita, yang pada umumnya di pimpin oleh perasaan. seharusnya aku begitu.

keadaan yang membuat aku dipimpin logika ku.
aku merasa tidak dipersilahkan untuk let my feeling free, i have too much responsible of my life, for my family and me.
i dont know if i cant handle it. can i?

is there anyone let me to trust myself that i strong enough to through all these?
let my feeling free?
let my lip make a real smile?

let me.. being me....
0 Comment