Teman Lama
Terlihat sepasang pria dan wanita yang
sedang duduk berhadapan tertawa lepas, sambil melahap makanan yang ada di
hadapan mereka. Di dalam sebuah kafe, mereka banyak berbicara. Menceritakan pekerjaan
masing-masing, dan banyak hal.
“Udah lama banget yah” ucap Cherish. “Aku
ga nyangka kamu inget detail juga, Van”
Evan ikut tertawa.
“Emang siapa bilang saya pelupa?” Evan
kemudian menjawab.
“Hahaha.. bahkan kamu inget hal yang gak
aku inget. Ga nyangka”
Tawa Cherish menyusul Evan.
***
“Cher..
maaf telat” Evan berucap dengan nafas terengah. Sementara cherish hanya
merapatkan bibir dan menajamkan pandangan.
“Jangan
marah dong cher.. kan kamu tahu saya ngapain aja. Ini saya juga ngeluangin
waktu.. nyempet-nyempettin. Saya juga capek” Ucap evan tiba-tiba.
Cherish
masih merapatkan bibir. Dan melangkah menjauh dan semakin menjauh.
Ini
bukan pertama kalinya terjadi, Evan kemudian mengejar Cherish dan meraih
pergelangan tangannya.
“Please, jangan marah” Evan semakin
terengah.
Cherish
membalikkan badannya menghadap Evan, kemudian tersenyum.
“Hmm..
Anterin aku pulang”
Pria
itu mengangguk sambil tersenyum lega. Ia masih menggenggam tangan wanitanya
menuju parkiran motor. Evan tersenyum memandang Cherish, begitu pun Cherish.
Cherish
tinggal sendirian, Ayah dan Ibu nya bekerja di Malaysia. Sedikit tidak heran
bila Cherish sering merasa kesepian.
“Masuk
dulu Van?”
“Iya
dong. Hauuuss”
“Hhaa..
iya sini masuk”
Keduanya
memasuki rumah, Evan duduk di ruang tamu, sedangkan Cherish meneruskan
langkahnya menuju dapur untuk membuatkan Evan es jeruk kesukaannya.
Tak
lama Cherish membawa es jeruk beserta kotak besar dan album foto. Evan merasa
aneh sambil tersenyum. “Apaan itu?”
“Ada
deh” Jawab Cherish sambil meletakkan es jeruk ke meja.
Evan
lalu meneguk Es jeruk buatan Cherish.
“Enak
ga?” Tanya Cherish
“Kalau
bilang ga enak gimana?”
“Keluar
kamu dari sini!” Jawab Cherish cepat.
Keduanya
tertawa keras. Evan melanjutkan meneguk es jeruk, sementara Cherish membuka
kotak besar yang ia bawa.
“Wah,
itu…” Evan terbelalak.
“Hhee…
iyaaa” Cherish tersenyum. Kotak besar itu berisi berbagai barang yang mereka
beli sejak mereka pertama kali bertemu. Sejak pertama kali mereka saling
memandang dengan perasaan sayang. Tujuh tahun yang lalu. Berbagai benda dari
karcis bioskop sampai tulisan-tulisan konyol, pernak-pernik, barang Evan yang
pernah disangka hilang, semua ada di situ.
“Ah!
Jam tangan ini” Evan meletakkan gelas berisi es jeruk ke meja, dan meraih Jam
tangan yang ia pikir telah rusak dan tidak bisa diperbaiki. “Kamu nyimpen ini?”
Cherish
mengangguk “Iya lah. Barang-barang kamu iniii… barang-barang kita maksudnya. Hhee..
daripada kamu buang, mendingan aku simpen”
“Saya
Ga nyangka kamu telaten” Evan tampak terkesima. Cherish tertawa teresinggung “Tujuh
tahun tuh kamu ga ngerti apa-apa tentang aku. Bodoh”
“Idih
marah” Evan tertawa.
“Biarin”
Cherish meneguk es jeruk buatannya.
“Ehhh
itu minuman saya”
“Aku
yang bikin! Biariiiiin”
Evan
tertawa sambil merebut gelas yang dipegang Cherish. Cherish kemudian membuka
Album foto, di dalamnya foto mereka berdua. Evan mendekatkan badannya ke album
foto yang Cherish pegang.
“Eh
liat, ganteng pisan —Sangat Ganteng— ini” Evan menunjuk dirinya di foto.
“Iya
ganteng” ucap Cherish “Ini Lima tahun kemaren. Sekarang kamu tua. Tau?”
Cherish
tertawa licik. Sementara Evan tersenyum gantung. (Senyum pengen gantung orang.
hheee)
“Kalau
ini cantik ga?” Tanya Cherish sambil menunjuk dirinya sendiri.
Evan
terdiam beberapa detik. “Saya gak mau jawab”
“Kenapa?”
Cherish penasaran.
“Kalau
saya bohong saya dosa. Kalau saya jujur saya diusir dari sini”
Cherish
mengepalkan tangannya. Evan buru-buru mengambil gelas dan menyodorkan ke
Cherish “Minum.. minum… gaboleh emosi yah. Hahahaaa”
Mereka
berbicara. Membicarakan banyak hal, dari diskusi politik, film, hingga artis
dan segala cerita tidak bermutu. Hingga akhirnya cherish memutuskan untuk
benar-benar berbicara.
“Van,
kamu sayang sama aku?”
“Ya
sayang lah.. masa engga” Jawabnya santai.
“Serius
sama aku?”
“Ga
ada alasan buat ga serius sayang” Evan menatap mata Cherish dengan tajam. “Kamu
kenapa nanya yang gitu sih?”
“Emang
kenapa?” Tanya Cherish
“Gak
apa-apa sih, ya gak nyaman aja”
“Kenapa
kamu gak nyaman?” desak Cherish.
“Kenapa
jadi ngomongin ini sih?” Nada bicara Evan terdengar memang sedang sangat merasa
tidak nyaman.
“Ya
aku juga gak nyaman Van” Cherish menaikkan nadanya “Tujuh tahun gak ada
kemajuan apa-apa”
“Maksud
kamu apa?” Evan terlihat marah.
“Kamu
gak berubah Van!” Cherish berkata cepat. “Kamu gak sayang sama aku Van”
“Omongan
apa sih? Tiba-tiba kayak gini”
“Itu
Van. Itu! Itu yang selalu kamu lakuin. Ngalihin pembicaraan kayak gitu yang aku
gak suka. Kenapa? Bener udah ga sayang kan kamu?”
“Aku
pulang yah. Ga bener ngobrol sama kamu keadaannya emosi kayak gini” Evan melangkah
menuju pintu.
“Lari
aja terus. Kamu pikir ninggalin obrolan kaya gini disebut dewasa? Nunggu aku
kepalanya dingin itu dewasa? Pikir Van!”
“Ya
udah. Kamu pengennya gimana?” Evan menurukan nada suaranya.
“Kamu
sayang ga sih sama aku?”
Evan
menahan nafas. “Sayaaaaaaaaaaaaang banget!”
Cherish
tersenyum. Dia mengajak Evan untuk kembali duduk. Kini keduanya duduk
berhadapan, saling menatap.
“Kamu
tau aku maunya apa Van.. tapi kamu suka pura-pura gatau.. ngilang ga jelas,
gimana aku ga ragu?”
“Ngilang
ga jelas gimana maksudnya?”
“Kalau
bahas bagian awal yang aku omongin gimana? Kenapa kamu pura-pura gak tahu? You pretending like a brat”
“Saya
belum siap, Cher.. masih banyak yang…”
“Oke
cukup” Sela Cherish.
“Tolong
kamu ngerti”
“Aku
ngerti Van. Tapi aku gak terima dengan segala sifat kamu yang egois kaya gitu”
“Jadi
kamu gak mau nunggu?”
“Tujuh
tahun van. Nunggu apa lagi? Umur aku berapa? Sekarang udah 24, mau kapan?”
“Kalau
masalah umur, saya aja yang umurnya…”
“Udah
Van… cukup… saya perempuan, anda laki-laki.. umur laki-laki sama perempuan beda
bandingannya”
“Maksud
kamu apa?”
“Yah
di umur ANDA yang MASIH 31 itu ANDA masih bisa santai, ya ANDA laki-laki”
Cherish sedikit menahan nafas “Saya udah gak ngerti. Yang saya ngerti ini
gabisa gini terus, kamu egois, masih sukanya main sama temen-temen kamu”
“Perempuan
gak akan ngerti. Dengerin saya dulu”
“Iya
gak ngerti jalan pikiran anda”
“bisa
ga usah bilang ANDA”
Cherish
terdiam.
“Kamu
masih egois juga. Gimana bisa melangkah lebih jauh lagi?” Evan kembali berucap.
“Alasan
apa itu? Orangtua aku udah nanyain van. Lagian aku juga sadar umur. Pengennya punya
anak di usia produktif”
“Terserahlah.
Aku emang gak baik buat kamu. Semoga kamu dapet laki-laki yang jauh lebih baik”
Evan beranjak keluar. Dan menjalankan motornya.
Cherish
melihat ia pergi dan tidak bisa berkata apa-apa, ia kemudia menutup pintu dan
meraih bantal kursi ruang tamu. Air mata jatuh tanpa perintah.. pria yang ia
berusaha mengerti, ternyata tidak ada niat untuk mempertahankan semua, untuk
memastikan semua. Cherish memeluk bantal semakin erat sambil menangis keras.
***
“Jadi kamu udah punya anak sekarang?”
Tanya Evan
“Iya, yang satu umurnya Lima Tahun, yang
satu Dua Tahun” Jawab Cherish sambil tersenyum
“Hahahaa…” Evan tertawa
“Enam tahun itu cepet yah van, duduk di
sini gak sengaja ketemu kamu”
“Iya, aku ada meeting di sini. Kamu sendirian?”
ucap Evan
“Aku nunggu suami, Van. Kita janjian di
sini, gimana kabar isteri kamu?”
“Baik. Ngurusin si kecil, umurnya 4
tahun”
“Nanti kenalin anak kita yah, anak kamu
perempuan atau laki-laki?” Cheris mengerjapkan matanya
“Perempuan” jawab evan singkat
“Anak aku laki-laki.. hahaaaa”
“Ah anak saya gamau dikenalin ke anak
kamu. Nanti kalau dia suka sama anak kamu bisa gawat”
Keduanya tertawa, hingga ada dua anak
laki-laki menghampiri Cherish “Mamaaaa” Teriak dua anak itu.
Cheris memandang pintu Kafe dan
mendapatkan suaminya di sana, ia tersenyum dan memangku anak bungsunya “Kenalin..
ini om evan”
Evan pun tersenyum dan memegang pipi
anak bungsu Cherish.
“Sayang, kenalin ini Evan, teman kuliah,
kita ketemu kebetulan, dia meeting di sini”
Radit, suami Cherish berjabat tangan
dengan Evan.
“Yuk mau langsung? Ini dua jagoan udah
ga sabar” ucap Radit
Cheris mengangguk. Ia beranjak dari
kursinya.
“Duluan yah Van” ucapnya sambil
melambaikan tangan. Evan pun tersenyum.
“Itu temen kuliah yang mana? Kok baru
liat?” Tanya Radit
Cherish menerawang
"Engga.. cuman temen lama.. jarang ketemu juga” Ucap Wanita itu sambil tersenyum.
"Engga.. cuman temen lama.. jarang ketemu juga” Ucap Wanita itu sambil tersenyum.