Showing posts with label Tulisan. Show all posts
Showing posts with label Tulisan. Show all posts
Jepit Jingga - 1

“Kamu satu-satunya temanku” Siara mengecup Jepit rambut jingga, jepit rambut Ajaib, pemberian kesayangan.


Saat itu matahari memancarkan sinarnya tanpa segan, saat itu jepit rambut Siara masih berada di atas bantal, tepat disamping telapak tangan kecil yang menelungkup seperti boneka, satu-satunya hal yang mebuat tangan itu seperti manusia, hanya karna Siara bernafas berat, nafas berat yang lambat, yang panjang, yang bersuara.
Sinar matahari semakin terang, Siara masih terbaring di tempat tidurnya, meski matanya sudah terbuka, dengan perlahan Ia meringkup sembari meletakkan kedua telapak tangannya untuk menutup telinga, gadis kecil itu tidak ingin mendengar apapun, tidak bahkan suara nafasnya.
Ia masih berusaha menutup semua suara yang memasuki gendang telinganya, Siara membiarkan matanya terbuka, dia tidak bisa membiarkan matanya tertutup, dia harus melihat, meski dengan telinga tertutup dan badan meringkuk.
Jepit rambut itu tidak bergerak, suara-suara itu masih berarak, membuat Siara berharap untuk tuli sejenak.
Dia menyerah, telinga itu terbuka, jepit rambut itu kini di kepala.
Kaki mungil nan cantik menapaki lantai, meninggalkan tempat tidur, meninggalkan tempat berlindung, membuka pintu dengan sendu.
“Mamah, Papah”
“Sudah bangun, sayang”

..... (To be continued)
0 Comment
Ellisa
Mari kembali ke alam dongeng, di mana peri-peri kecil berterbangan dengan indahnya, rumput hijau sejauh mata memandang, dan bunga-bunga bermekaran. Ellisa, seorang putri dari kerajaan Laite, menyukai bunga dan berbagai tanaman lainnya, ia sungguh periang, cantik, dan pandai.
“Hai, peri kecil” Ucap Ellisa sembari mengulurkan tangan ke arah salah satu peri cantik.
Sang peri pun hinggap di telunjuk sang putri, dan bertanya “Ada apa wahai putri?”
“Mengapa aku tidak mempunyai sayap sepertimu?”
“Karna kau bukan peri”
“Tapi aku ingin menjadi mempunyai sayap” Ellisa memekik.
“Maka jadilah peri”
“Bagaimana?”
“Berimajinasilah, imajinasi mu nyata di sini” Sang peri pun berlalu.
Ellisa memejamkan matanya dan mulai berimajinasi, ia memikirkan dirinya terbang menembus awan, mengelilingi padang rumput dan taman bunga, kemudian ia membuka matanya, ia masih tidak memiliki sayap. Sang putri merasa dibohongi, ia menangis dan berteriak kesal.
“Mengapa kau menangis, wahai putri?” Seekor kelinci menghampiri.
“Aku ingin memiliki sayap” Ellisa masih menangis.
“Kau bisa memiliki apapun di sini, berimajinasi lah, imajinasimu nyata di sini”
“Kau bohong!” Ellisa berteriak. “Aku telah mencobanya beberap menit lalu, aku memejamkan mataku, dan aku tidak melihat perubahan secuilpun setelah aku membuka mata!” Teriakannya semakin tinggi “Semua penghuni di sini pembohong!”
Si kelinci mundur sepuluh langkah menjauhi Ellisa. “Putri, cobalah jangan memejamkan mata, nanti kau terbangun, jangan berteriak terlalu keras, nanti kau pergi”
“Apa maksudmu?”
“Lakukan semuanya dengan mata terbuka”
Tak! tiba-tiba tumbuh sayap di punggungnya, Ia senang bukan kepalang, Ia pun terbang berkeliling taman dan melambaikan tangannya ke arah si Kelinci.
“Jangan mengantuk!” teriak si kelinci. Ellisa mengangguk, ia bahkan tidak merasakan kantuk sedikitpun, namun tiba-tiba matanya kabur, ia merasakan gravitasi, ya gravitasi, ia kehilangan sayapnya.









Terdengar teriakan banyak manusia, juga tangis sepasang suami istri, karena putrinya, Ellisa, terjun dari lantai enam gedung pusat perbelanjaan.

0 Comment
Secarik Kertas untuk Tuhan

“Terimakasih kepada Tuhan, atas Rezeki hari ini” ucap seorang wanita berperawakan kurus sembari melahap makanan yang baru saja ia beli di kantin kampus.

“Sebutin lah nama Tuhannya, Lun”
Luna berhenti mengunyah, ia menatap Maya temannya, kemudian meletakkan sumpit mie ayam dan kembali menaikkan tangan ke arah dada “Terimakasih ya Allah, Tuhan Yesus, Bunda Maria, segala Dewa, dan lain lain. Amin.
“Kamu tuh Lun, berdoa masih aja sama banyak Tuhan” Maya mengomel sambil melahap bekal makanan yang dibawakan Ibunya.
“Alah, bicaramu itu seperti kamu manusia relijius aja, may”
“For at least i believe in God, i have faith, and i go to Church, even i am not a religious person”
Luna tertawa sinis
“Tetep yah, sinis yah Kamu”
“Because i have faith, too, Maya. Aku hanya ga yakin aja sama semua agama yang aku tahu, that’s it, no more or less”
“Atheis?”
“Nope, i believe in God”
“Agnostic?”
“Apa pula itu, May? hahahha tau deh”
“Eh di KTP agama mu apa sih?”
“Maya, it is seriously none of you business, mind yours” Luna mengedipkan sebelah mata nya. Maya mengangkat bahu sambil terus mengunyah.


Kepada Tuhan yang kuyakini hanya satu
Aku tak tahu apa namamu, entah kau bernama atau tidak, karena manusia hanya mengarang namamu, membuat aturan mengatasnamakan Mu, tapi aku selalu percaya bahwa Kau memang benar-benar ada.
Tuhan, Kau tahu? banyak orang baik mati karena kelaparan, perang, dan dibunuh begitu saja? Kau tahu banyak orang jahat yang berumur panjang dan kaya raya? inikah hukumanmu karena manusia mengarang semua cerita atas keberadaan Mu? mendramatisir semua cara Mu agar mereka percaya keberadaan Mu?
Tuhan,
Kau tahu adikku terbunuh karena menjadi korban tabrak lari? apa dia bersama Mu sekarang?
Tuhan, tempat Mu dimana?
Tuhan,
tolong berhenti main-main dengan ciptaan Mu, Kau tahu benar manusia itu lemah, lama-lama dunia ini akan penuh dengan orang gila bila terus seperti ini.
Manusia tidak sekuat itu.

Aku berhenti menulis dan tersenyum. “Semoga Kau membaca ini, Tuhan” Orang lain berkata bahwa Tuhan mengetahui setiap apa yang kukatakan, kulakukan, entah di manapun aku berada, tapi aku tidak mau Tuhan melupakan apa yang kupikirkan, maka kutulis itu semua dalam secarik kertas.

“Tuhan, aku akan ke tempat Mu sekarang. Tolong jangan pura-pura tidak ada”

Aku naik ke kursi lab komputer, menempatkan kepalaku ke tambang yang kusiapkan. Tidak. Aku tidak bunuh diri, ini namanya bukan bunuh diri. Aku hanya ingin menyampaikan banyak hal kepada Tuhan agar dunia menjadi lebih baik. Suatu saat seluruh manusia akan berterimakasih atas apa yang kulakukan hari ini.
1 comments
Teman Lama
                       Terlihat sepasang pria dan wanita yang sedang duduk berhadapan tertawa lepas, sambil melahap makanan yang ada di hadapan mereka. Di dalam sebuah kafe, mereka banyak berbicara. Menceritakan pekerjaan masing-masing, dan banyak hal.
“Udah lama banget yah” ucap Cherish. “Aku ga nyangka kamu inget detail juga, Van”
Evan ikut tertawa.
“Emang siapa bilang saya pelupa?” Evan kemudian menjawab.
“Hahaha.. bahkan kamu inget hal yang gak aku inget. Ga nyangka”
Tawa Cherish menyusul Evan.


***



“Cher.. maaf telat” Evan berucap dengan nafas terengah. Sementara cherish hanya merapatkan bibir dan menajamkan pandangan.
“Jangan marah dong cher.. kan kamu tahu saya ngapain aja. Ini saya juga ngeluangin waktu.. nyempet-nyempettin. Saya juga capek” Ucap evan tiba-tiba.
Cherish masih merapatkan bibir. Dan melangkah menjauh dan semakin menjauh.
Ini bukan pertama kalinya terjadi, Evan kemudian mengejar Cherish dan meraih pergelangan tangannya.
“Please, jangan marah” Evan semakin terengah.
Cherish membalikkan badannya menghadap Evan, kemudian tersenyum.
“Hmm.. Anterin aku pulang”
Pria itu mengangguk sambil tersenyum lega. Ia masih menggenggam tangan wanitanya menuju parkiran motor. Evan tersenyum memandang Cherish, begitu pun Cherish.

Cherish tinggal sendirian, Ayah dan Ibu nya bekerja di Malaysia. Sedikit tidak heran bila Cherish sering merasa kesepian.
“Masuk dulu Van?”
“Iya dong. Hauuuss”
“Hhaa.. iya sini masuk”
Keduanya memasuki rumah, Evan duduk di ruang tamu, sedangkan Cherish meneruskan langkahnya menuju dapur untuk membuatkan Evan es jeruk kesukaannya.
Tak lama Cherish membawa es jeruk beserta kotak besar dan album foto. Evan merasa aneh sambil tersenyum. “Apaan itu?”
“Ada deh” Jawab Cherish sambil meletakkan es jeruk ke meja.
Evan lalu meneguk Es jeruk buatan Cherish.
“Enak ga?” Tanya Cherish
“Kalau bilang ga enak gimana?”
“Keluar kamu dari sini!” Jawab Cherish cepat.
Keduanya tertawa keras. Evan melanjutkan meneguk es jeruk, sementara Cherish membuka kotak besar yang ia bawa.
“Wah, itu…” Evan terbelalak.
“Hhee… iyaaa” Cherish tersenyum. Kotak besar itu berisi berbagai barang yang mereka beli sejak mereka pertama kali bertemu. Sejak pertama kali mereka saling memandang dengan perasaan sayang. Tujuh tahun yang lalu. Berbagai benda dari karcis bioskop sampai tulisan-tulisan konyol, pernak-pernik, barang Evan yang pernah disangka hilang, semua ada di situ.
“Ah! Jam tangan ini” Evan meletakkan gelas berisi es jeruk ke meja, dan meraih Jam tangan yang ia pikir telah rusak dan tidak bisa diperbaiki. “Kamu nyimpen ini?”
Cherish mengangguk “Iya lah. Barang-barang kamu iniii… barang-barang kita maksudnya. Hhee.. daripada kamu buang, mendingan aku simpen”
“Saya Ga nyangka kamu telaten” Evan tampak terkesima. Cherish tertawa teresinggung “Tujuh tahun tuh kamu ga ngerti apa-apa tentang aku. Bodoh”
“Idih marah” Evan tertawa.
“Biarin” Cherish meneguk es jeruk buatannya.
“Ehhh itu minuman saya”
“Aku yang bikin! Biariiiiin”
Evan tertawa sambil merebut gelas yang dipegang Cherish. Cherish kemudian membuka Album foto, di dalamnya foto mereka berdua. Evan mendekatkan badannya ke album foto yang Cherish pegang.
“Eh liat, ganteng pisan —Sangat Ganteng— ini” Evan menunjuk dirinya di foto.
“Iya ganteng” ucap Cherish “Ini Lima tahun kemaren. Sekarang kamu tua. Tau?”
Cherish tertawa licik. Sementara Evan tersenyum gantung. (Senyum pengen gantung orang. hheee)
“Kalau ini cantik ga?” Tanya Cherish sambil menunjuk dirinya sendiri.
Evan terdiam beberapa detik. “Saya gak mau jawab”
“Kenapa?” Cherish penasaran.
“Kalau saya bohong saya dosa. Kalau saya jujur saya diusir dari sini”
Cherish mengepalkan tangannya. Evan buru-buru mengambil gelas dan menyodorkan ke Cherish “Minum.. minum… gaboleh emosi yah. Hahahaaa”

Mereka berbicara. Membicarakan banyak hal, dari diskusi politik, film, hingga artis dan segala cerita tidak bermutu. Hingga akhirnya cherish memutuskan untuk benar-benar berbicara.
“Van, kamu sayang sama aku?”
“Ya sayang lah.. masa engga” Jawabnya santai.
“Serius sama aku?”
“Ga ada alasan buat ga serius sayang” Evan menatap mata Cherish dengan tajam. “Kamu kenapa nanya yang gitu sih?”
“Emang kenapa?” Tanya Cherish
“Gak apa-apa sih, ya gak nyaman aja”
“Kenapa kamu gak nyaman?” desak Cherish.
“Kenapa jadi ngomongin ini sih?” Nada bicara Evan terdengar memang sedang sangat merasa tidak nyaman.
“Ya aku juga gak nyaman Van” Cherish menaikkan nadanya “Tujuh tahun gak ada kemajuan apa-apa”
“Maksud kamu apa?” Evan terlihat marah.
“Kamu gak berubah Van!” Cherish berkata cepat. “Kamu gak sayang sama aku Van”
“Omongan apa sih? Tiba-tiba kayak gini”
“Itu Van. Itu! Itu yang selalu kamu lakuin. Ngalihin pembicaraan kayak gitu yang aku gak suka. Kenapa? Bener udah ga sayang kan kamu?”
“Aku pulang yah. Ga bener ngobrol sama kamu keadaannya emosi kayak gini” Evan melangkah menuju pintu.
“Lari aja terus. Kamu pikir ninggalin obrolan kaya gini disebut dewasa? Nunggu aku kepalanya dingin itu dewasa? Pikir Van!”
“Ya udah. Kamu pengennya gimana?” Evan menurukan nada suaranya.
“Kamu sayang ga sih sama aku?”
Evan menahan nafas. “Sayaaaaaaaaaaaaang banget!”
Cherish tersenyum. Dia mengajak Evan untuk kembali duduk. Kini keduanya duduk berhadapan, saling menatap.
“Kamu tau aku maunya apa Van.. tapi kamu suka pura-pura gatau.. ngilang ga jelas, gimana aku ga ragu?”
“Ngilang ga jelas gimana maksudnya?”
“Kalau bahas bagian awal yang aku omongin gimana? Kenapa kamu pura-pura gak tahu? You pretending like a brat”
“Saya belum siap, Cher.. masih banyak yang…”
“Oke cukup” Sela Cherish.
“Tolong kamu ngerti”
“Aku ngerti Van. Tapi aku gak terima dengan segala sifat kamu yang egois kaya gitu”
“Jadi kamu gak mau nunggu?”
“Tujuh tahun van. Nunggu apa lagi? Umur aku berapa? Sekarang udah 24, mau kapan?”
“Kalau masalah umur, saya  aja yang umurnya…”
“Udah Van… cukup… saya perempuan, anda laki-laki.. umur laki-laki sama perempuan beda bandingannya”
“Maksud kamu apa?”
“Yah di umur ANDA yang MASIH 31 itu ANDA masih bisa santai, ya ANDA laki-laki” Cherish sedikit menahan nafas “Saya udah gak ngerti. Yang saya ngerti ini gabisa gini terus, kamu egois, masih sukanya main sama temen-temen kamu”
“Perempuan gak akan ngerti. Dengerin saya dulu”
“Iya gak ngerti jalan pikiran anda”
“bisa ga usah bilang ANDA”
Cherish terdiam.
“Kamu masih egois juga. Gimana bisa melangkah lebih jauh lagi?” Evan kembali berucap.
“Alasan apa itu? Orangtua aku udah nanyain van. Lagian aku juga sadar umur. Pengennya punya anak di usia produktif”
“Terserahlah. Aku emang gak baik buat kamu. Semoga kamu dapet laki-laki yang jauh lebih baik” Evan beranjak keluar. Dan menjalankan motornya.
Cherish melihat ia pergi dan tidak bisa berkata apa-apa, ia kemudia menutup pintu dan meraih bantal kursi ruang tamu. Air mata jatuh tanpa perintah.. pria yang ia berusaha mengerti, ternyata tidak ada niat untuk mempertahankan semua, untuk memastikan semua. Cherish memeluk bantal semakin erat sambil menangis keras.


***

“Jadi kamu udah punya anak sekarang?” Tanya Evan
“Iya, yang satu umurnya Lima Tahun, yang satu Dua Tahun” Jawab Cherish sambil tersenyum
“Hahahaa…” Evan tertawa
“Enam tahun itu cepet yah van, duduk di sini gak sengaja ketemu kamu”
“Iya, aku ada meeting di sini. Kamu sendirian?” ucap Evan
“Aku nunggu suami, Van. Kita janjian di sini, gimana kabar isteri kamu?”
“Baik. Ngurusin si kecil, umurnya 4 tahun”
“Nanti kenalin anak kita yah, anak kamu perempuan atau laki-laki?” Cheris mengerjapkan matanya
“Perempuan” jawab evan singkat
“Anak aku laki-laki.. hahaaaa”
“Ah anak saya gamau dikenalin ke anak kamu. Nanti kalau dia suka sama anak kamu bisa gawat”
Keduanya tertawa, hingga ada dua anak laki-laki menghampiri Cherish “Mamaaaa” Teriak dua anak itu.
Cheris memandang pintu Kafe dan mendapatkan suaminya di sana, ia tersenyum dan memangku anak bungsunya “Kenalin.. ini om evan”
Evan pun tersenyum dan memegang pipi anak bungsu Cherish.
“Sayang, kenalin ini Evan, teman kuliah, kita ketemu kebetulan, dia meeting di sini”
Radit, suami Cherish berjabat tangan dengan Evan.
“Yuk mau langsung? Ini dua jagoan udah ga sabar” ucap Radit
Cheris mengangguk. Ia beranjak dari kursinya.
“Duluan yah Van” ucapnya sambil melambaikan tangan. Evan pun tersenyum.


“Itu temen kuliah yang mana? Kok baru liat?” Tanya Radit
Cherish menerawang
       "Engga.. cuman temen lama.. jarang ketemu juga” Ucap Wanita itu sambil tersenyum.



3 comments
DECIDUOUS


Kucikakak…. Kukucikakak… kucikakak.. kukucikakak…

Gadis kecil itu menari di bawah pohon Deciduous.  Ia berputar menikmati setiap daun yang berguguran dan tertiup angin. Dengan gaun putih kesukaannya. Sesekali ia bersenandung dan tertawa, tanpa berhenti menari. Taman itu begitu sepi. Tak ada yang bisa menggangunya dari menari, dari bernyanyi, dari menikmati setiap semilir angin dan suara air mengalir di sungai. Pohon Deciduous itu tampaknya pohon deciduous terlebat, meski musim gugur ini sudah 2 minggu, daunnya tetap hampir tidak terlihat berkurang. Ajaib memang. Namun tidak banyak orang yang menyadari tempat ini.
Ia masih menari tanpa alas kaki. Rambutnya yang coklat kehitaman dibiarkan terurai, sesekali menutupi wajahnya karna teriup angin. Ketika senja semakin terlihat, ia mengakhiri tariannya dengan memeluk pohon. Gadis kecil itu terengah sambil tersenyum. Ia kemudian duduk bersandar, masih memejamkan mata.ia meluruskan kakinya.
Hari itu masih senja, gadis kecil menjinjing alas kaki nya dan mendekati sungai jernih yang berada dekat dari pohon tempat ia bersandar. Ia memandang wajahnya di atas air, dan bergumam “kucikakak, kukucikakak”.
Gaun putih itu menyapu guguran daun deciduous, sehingga semakin lama semakin memberatkan langkahnya untuk pulang.
“Mademoiselle” ucap seorang pria tua.
“Oui? Aku sudah harus pulang?”
“Monsieur Philippe menunggu” ucapnya sopan
“Mon oncle, je ne veux pas de rentrer chez— Paman, aku belum ingin pulang ” Gissele berkata Manja, sambil memeluk paman Lucas.
“Jangan membuat saya berbohong lagi pada Tuan” Paman Lucas menggendong gissele sambil berjalan menuju mobil.
“Vous n'êtes pas mon ami—Kau bukan temanku” Gissele memalingkan wajah. Paman Lucas hanya tersenyum. Ini hampir terjadi setiap hari ketika musim gugur. Dan ini berlangsung selama 3 tahun.
Bumi seakan berputar lebih cepat. Matahari sudah tidak terlihat.




“Papa” Gissele berlari memeluk Ayahnya ketika sampai di rumah. Tuan Phillipe kemudian menggendongnya sambil melambaikan tangan pada pembantu setia nya. Lucas. Sambil tersenyum.
“Apa ceritamu hari ini ma chérie?”Phillipe menggendong puteri semata wayang nya itu menuju kamar.
“Luar biasa! Aku menari sepanjang hari. Papa, kau tahu? Pohon itu bicara kepadaku” Ucapnya bersemangat sambil duduk di kasur bermotif Daun, kesayangannya. “Kemudian daun-daun itu mengiringi tarianku. Papa, aku sangat senang!”
“Vous ne voulez pas d’inviter vos amis?— Kau tidak ingin mengajak teman mu? — ma chérie?” Phillipe membelai rambut puterinya penuh kasih sayang
“Amis? — Teman? — Papa, Oncle— Paman—  Lucas temanku!”  Gissele terlihat marah. “Aku memiliki banyak teman di bawah pohon Deciduous”
Phillipe menghela nafas, ia tersenyum dan mengecup kening puterinya “Apapun untuk puteriku” ucapnya sambil berjalan keluar kamar.
Gissele memandang punggung Ayahnya yang menjauh. Ia beranjak dari kasur dan meraih gagang besi yang terpasang di tembok kamarnya. Kemudian ia berlatih balet. Tak lama, ia bejalan menuju meja belajarnya dan mengambil handy cam.
“Dear, Papa. Hari ini aku menari di bawah pohon Deciduous. Aku senang. Meski aku sendirian. Tapi pohon itu menemaniku! Seperti melindungiku, Papa. Aku selalu suka ketika daun gugur menyentuh kepalaku. Dan hidungku yang mulai kedinginan seperti ini” Gissele merekam dirinya sendiri. “Aku Tahu, Papa menginginkan aku bermain dengan teman-teman ku. Tapi tidak ada yang mau bermain dengan ku. Kau tahu? Aku selalu ditunjuk anak aneh, karena aku suka menari dan berputar di bawah pohon Deciduous. katanya aku terlalu kekanak-kanakan untuk gadis seumurku. aku sedih, Papa. Aku tahu aku tidak aneh”
Air mata mengalir membasahi pipi Gissele.
“Je Veux Maman—Aku ingin Ibu—“ Tangisannya semakin keras “Je Veux Maman—Aku ingin Ibu—“.. ia mengulanginya lagi, seakan berharap Ibunya akan hadir. “Dan aku tidak bisa hidup tanpa benda perekam ini Papa” Ucapnya sambil terisak “Setiap hari aku bertemu Oncle Lucas. Ia menceritakan padaku bagaimana aku selalu menghapus memoriku ketika aku tidur. dia mengingatkanku untuk merekam kejadian hari ini. Dan memperlihatkan video yang aku buat sore sebelumnya. Setiap pagi aku terpukul, papa! Bagaimana aku bisa tidak mengingat setiap hal yang aku lakukan? Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bermain di bawah pohon deciduous. Meski aku tahu aku hampir melakukannya setiap hari. Tapi aku tidak ingat, Papa. Je ne me Souviens pas dutout— Aku tidak mengingat apapun— Oncle Lucas berkata padaku bahwa aku berumur 10 Tahun. Bagaimana bisa aku berumur 10 Tahun? Yang aku ingat aku masih berumur 7 Tahun. Aku melihat teman-temanku begitu bertambah tinggi. Itu membuatku tidak ingin bercermin untuk melihat seluruh badanku. Aku 7 TAHUN PAPA! Aku tidak mengerti apa yang Paman Lucas katakan! Mengapa Paman bilang Maman-ibu- sudah meninggal? kecelakaan apa? kecelakaan apa? Dis-moi papa! -Katakan padaku, papa- Dis-moi! Aaaaaaaaaaaaaa”
Gissele berteriak histeris sambil memegang kepalanya.ia melempar benda-benda di dekatnya… hingga hanya ada dia dan selimut di atas kasur, menyudut, menunduk dan memeluk lutut, tanpa berhenti terisak. Setiap isak tangisnya menyuarakan kepedihan dan kebingungan.




“Monsieur” Ucap Lucas, mendapati tuannya menyandar di balik pintu kamar Gissele.
Phillipe terlihat begitu terpukul. “Puteriku. Lucas… ini salahku…” ia memukul tembok. Terlihat butir air mata keluar dari kelopak matanya.
“Ah! Tolong, Monsieur. Tidak ada yang meginginkan ini terjadi…” Lucas mengangkat Phillipe dari lantai. Ia juga terlihat sangat terpukul.
“Puteriku terlalu kecil untuk menerima penyakit seperti itu.. mengapa tidak aku saja? MENGAPA TIDAK AKU?” Phillipe kembali menunduk menyentuh lantai. “Lucas, besok kau tidak usah memberi tahunya, aku tidak bisa melihat dia begitu lagi… biarlah dia merasa dirinya berumur 7 tahun… biarlah dia tidak usah dipaksa mengerti tentang apapun… “
“Tapi, Monsieur…”
Phillipe Berdiri. “Dia puteriku, Lucas… biarkan dia merasa bahagia. Meski ini akan membunuhku”




3 Tahun sebelumnya

“Papa! Aku pergi bermain yah”
Phillipe menengok kepada Isterinya “Kalian mau kemana?” ucapnya lembut
“Seine. Kita akan berperahu dan bersepeda. Ayolah.. kau harus ikut”
“Aku harus bekerja… hari minggu nanti aku berjanji kita akan jalan-jalan keliling paris”
“Aku pegang kata-kata mu Monsieur” Ucap Victoria dengan nada menggoda.
“Ayo kita pergi, Maman” Gissele terdengar tidak sabar.
Phillipe memandang punggung Isteri dan puterinya yang menjauh.



“Monsieur, Ada telepon dari rumah sakit”
“Quoi?” Phillipe Tersentak. Ia menerima telepon itu dan mendengarkan dengan seksama tanpa kata. Ia tersungkur jatuh.



“Anda memiliki puteri bernama Gissele dan isteri anda bernama Victoria? Saat ini Puteri anda dalam keadaan kritis, pendarahan pada kepalanya sangat banyak. Namun tim kami sedang menanganinya… kami harap monsieur tenang. Namun maaf.. kami tidak bisa menyelamatkan isteri anda”

***
Nouvelles Hadline
3 desember 2002
Sebuah mobil truk menabrak mobil lanser silver, diduga pengendara truk tersebut sedang dalam pengaruh alcohol. Kecelakaan ini memakan 2 Korban. 1 korban meninggal (Victoria, 28 Tahun), dan 1 korban kritis (Gissele, 7 Tahun). Supir Truk selamat tanpa luka berat.
6 comments
Generasi kini
PEMUDA
vocal: Chaseiro

Pemuda, kemana langkahmu menuju
Apa yang membuat engkau ragu
Tujuan sejati menunggumu sudah
Tetaplah pada pendirian semula

Abstrak....  langkah yang abstrak... tidak mengerti kemana, dan bagaimana... aku hanya melangkah, dan menerka terang, seringkali ragu..

Dimana artinya berjuang
Tanpa sesuatu pengorbanan
Kemana arti rasa satu itu


Entah, seringkali merasa tak sepaham.. ini sepertinya menjadi kendala bertahannya rasa "satu", berjuang sendiri-sendiri untuk kepentingan masing-masing? mengorbankan lain, alih-alih diri sendiri.. semoga tidak berakhir seperti ini.

Bersatulah semua seperti dahulu
Lihatlah kemuka
Keinginan luhur kan terjangkau semua


Entah apa definisi "Keinginan luhur" bagi pemuda, dewasa ini...

Pemuda, mengapa wajahmu tersirat
Dengan pena yang bertinta belang
Cerminan tindakan akan perpecahan
Bersihkanlah nodamu semua


Ya. memang. berteriak melempar serapah bukan tindakan yang dibenarkan bagi siapapun, terlebih lagi pemuda terpelajar, kini. menusuk etnis dan perbedaan agama. sebenarnya sadar atau tidak, kini paham materialis yang memimpin.

Masa depan yang akan tiba
Menuntut bukannya nuansa
Yang selalu menabirimu pemuda
 

nuansa dan angan lepas memang menjadi tabir realis. bahagia begitu diimingi janji.


Pemuda generasiku, tidak muluk ku berharap kita bergandengan tangan. tidak muluk ku berharap kita berpeluk satu saudara.. hanya saja, semoga setiap peluh yang menetes, setiap tatapan penuh harap, setiap teriakan hati kita, berkata sama. 

"Aku yang akan menjaga Indonesia ku"
1 comments
Se(jarum) Di(jam)h
Musik itu berbicara, ia bisa mengatakan apa sesuatu yang tak sanggup kita katakan.. musik yang membuat kita menyakiti diri dengan membangkitkan memori dan rasa yang bisa membunuh hati. namun musik juga yang mengangkat rasa sadar dan membuat kita berpikir: aku masih bisa berjalan meskipun tertatih
 
Ia menyimpan sesal, dan cerita. pernah mendengarkan musik dan kau merasa kembali pada saat tertentu? 

Musik adalah permohonan maaf, musik adalah ucapan terimakasih, musik adalah syukur, musik adalah amarah, musik adalah imajinasi, musik adalah berjuang, musik adalah menyerah, musik adalah tangis, musik adalah tawa, musik adalah asa, musik adalah rasa kecewa, musik adalah apatis, musik adalah optimis, musik adalah hitam, musik adalah putih, musik adalah mati,
.........

Musik adalah hidup. 
0 Comment
Manusia dan Bahasa
Bahasa.
Setiap manusia memiliki cara berbahasa yang berbeda. Dan saya termasuk manusia yang mengagumi cara setiap lain berbahasa.
Saya menyukai komik, ketika sd-smp
Saya menyukai novel teenlit ketika smp
Saya menyukai novel sci-fi, keluarga, dan yang mengandung sejarah/ epic, mitologi, sejak smp-hingga kini

Tapi dari semuanya. Saya menyukai ketika saya membaca apa yang teman saya tuangkan. Cara mereka  bercerita, merangkai setiap kata untuk menyamarkan setiap makna. Betapa luar biasa mengenal orang yang saya kenal di dunia nyata, dengan membaca tiap tulisannya di dunia maya.

Cara bercerita teraman adalah melalui tulisan. Kita dapat menyembunyikan semua rasa karna dibalut oleh bahasa dengan berbagai gaya. Menuangkan kemarahan dengan sebaris kalimat namun disamarkan dengan tanda baca. Bahkan memancing emosi pembaca hanya dengan pemilihan kata yang bisa memutar balikkan rasa dan hawa. Setiap kata adalah karya, setiap bahasa adalah harta. Dan semua manusia memilikinya, terlepas dari ia menuangkannya atau tidak. Kita bisa membaca pribadi seorang penulis, dari karya pertamanya. Karna ia jujur.

Karya kedua dan setelahnya?
Ia pasti sudah pandai bercerita dengan gayanya, membuat sesuatu yang sulit diterka, bahkan arti sebenarnya pun langka. Maka tak ada alasan bagi saya untuk tidak suka membaca. Bayangkan, kita bisa masuk ke dalam jalan pikiran penulis dan tenggelam sesaat dalam riuh bahasanya. Hujan sastra da kenikmatan metafora yang bisa membuat kita “egois” untuk tidak bisa menolak alur penulisannya. Ya. Saat membaca, kita hanya bisa menuruti apa kemauan nya. Karena kita hanya bisa pasrah dalam segala catatan yang terlihat di mata.

Coba saja, Tanya temanmu yang memiliki media online untuk mempublikasikan catatannya. Baca, dan bandingkan dengan dia yang setiap hari kau kenal, mengenali cara dia berbahasa. Dan kau akan terkesima. Betapa luar biasa setiap apa yang mereka tuangkan.

Ya. Saya sedang terkagum. Oleh semua teman, ketika saya membaca setiap apa yang mereka unggah. Saya hanya tersenyum, dan bersyukur, kami memiliki cara berbahasa yang berbeda, namun tetap bisa menerima. Ketika perbedaan terasa indah, ketika perbedaan saling melengkapi, ketika itu, kita bisa memiliki teman sejati.

*
Salam =)


1 comments
Antara Aku, Logika dan Rasa
Maka aku hanya bisa melakukan sebatas mampuku. and i mean it.

Sering aku merasa muak dengan segala keterbatasanku.
karna imajinasi ku terlalu tinggi, aku selau ingin melakukan hal yang kadang mustahil kulakukan. mereka berkata apa yang kulakukan adalah sesuatu yang hebat untuk ukuran wanita, dan seumuranku. tapi tidak menurutku.

aku punya target, dan belum ada satu target pun yang terpenuhi. selalu saja beberap level di bawah apa yang kutargetkan. maka ini belum dapat disebut hebat atau berhasil. menurutku. mencapai titik kepuasan itu sulit. sungguh.

Siapapun yang melihatku, pasti bilang bahwa aku bukan seorang dengan tipe pekerja keras.
mungkin iya. karena kalau aku seorang pekerja keras.. setidaknya aku pasti memenuhi 50% ekspektasiku.

terlepas dari segala hal. aku harus bersyukur. ya. harus.
namun aku terlalu egois untuk puas dengan apa yang aku kerjakan.
tapi rasa syukur tidak perlu diiringi rasa puas, kan? *baru sadar

kadang aku lelah, bahkan ketika aku hendak diberi sugesti *dihipnotis* saja, tidak bisa. mereka selalu gagal meng hipnotisku.
kunci dari hipnotis adalah rileks. itu bukan hal mudah bagiku.
otakku terus saja berfikir... entah berfikir apa, dan nampaknya aku terlalu logis.

aku pikir, harus ada orang yang melatih nilai rasa. karena aku sebagai seorang wanita, yang pada umumnya di pimpin oleh perasaan. seharusnya aku begitu.

keadaan yang membuat aku dipimpin logika ku.
aku merasa tidak dipersilahkan untuk let my feeling free, i have too much responsible of my life, for my family and me.
i dont know if i cant handle it. can i?

is there anyone let me to trust myself that i strong enough to through all these?
let my feeling free?
let my lip make a real smile?

let me.. being me....
0 Comment
Karena sederhana tidak berbanding lurus dengan kesederhanaan
Hidup tuh ga se simple 
  • kanan atau kiri..
  • Atas atau bawah
  • Hitam atau putih
  • Baik atau buruk
dan segala sesuatu yang bersifat 2 efek (atau seperti dua sisi mata uang)

Aku tahu betul tentang itu, maka aku tidak mau kalah dengan hidup. aku pun ingin berkembang menjadi seorang yang rumit.

namun nasib..-atau bakat?- aku tetap saja simple. walau dengan ke simple-an ku.. tidak membuat hidupku lebih mudah..
hey kehidupan. memangnya tidak lelah yah? berjalan seperti itu setiap hari?

bergerak rumit, dengan perhitungan super rumit.

Hal ter simple yang menurutku pekerjaan rumit. adalah tata surya..
simple nya... mereka mempunyai orbitnya masing".. dan selalu bergerak pada porosnya, dengan kecepatan masing" yang juga telah ditentukan Yang Maha Kuasa.

rumitnya..
coba kita analogikan, manusia itu salah satu dari tata surya, dan aturan/hukum adalah orbitnya.
sulit bukan? bagaimana bisa kita selalu berjalan pada porosnya setiap waktu. membosankan. namun apa yang terjadi bila keluar dari orbit?

bagaimana bila Venus loncat mengikuti orbit bumi? atau ada planet yang berbalik arah.

ergh. mengerikan.

segala sesuatu yang sederhana, dibangun dari sesuatu yang  rumit.
sebaliknya, sesuatu yang rumit, dbangun dari sesuatu yang sederhana.

maka dari itu, aku berani bilang bahwa kehidupan itu rumit, karena terlalu sederhana. dan hal yang sederhana dibangun dari sesuatu yang rumit. maka.. hal yang terlalu sederhana, dibangun dari?
*aku harap kata" ku cukup dimengerti*

aku tidak habis pikir, dunia yang sesederhana ini... sangat berjalan mulus dengan perhitungan sempurna!

baiklah, apa yang aku pikirkan sebenarnya?

Bila aku mendapati suatu masalah yang cukup rumit.. possibility nya adalah, aku kurang berusaha menata hal-hal rumit itu untuk menjadi hal yang sederhana, di awal. Maka, harus kukerjakan dengan waktu yang lebih panjang, karena hal rumit yang kutinggalkan pasti bertambah rumit. dan tugasku lah untuk menjadikannya sederhana.
2 comments
Antara Aku dan sebuah kata>> Dewasa
Sebelumnya aku bersikukuh untuk tetap menjadi aku yang seperti ini.. tidak mau tahu, tidak peka, egois, kekanak-kanakan dan segala tingkah tidak dewasa. dengan pemikiran.. umurku masih muda, harus kunikmati semaksimal mungkin, setidaknya sampai umurku 20 something dan patut untuk Dewasa. malah harus. namun sejalan dengan waktu. aku bertemu berbagai tipe manusia, dan sepertinya tipikal manusia yang mirip denganku, seperti yang kusebutkan di awal blog ini.

#nyengir

lalu apa yang terlintas di otak level patrick star ku ini?
MENGERIKAN

bahkan aku hampir kewalahan menghadapi manusia seperti itu. dan aku pun takut... apa aku seperti itu? aku berkaca dengan berusaha me replay yang terjadi selama aku hidup.. dan hasilnya?

MENGERIKAN

Sepertinya aku memang seperti itu, kekanak-kanakan, seenaknya, dan segala sikap buruk sangat melekat dengan image ku..

hingga akhirnya seperti ada kata" yang begitu saja tersirat di otakku
"Bagaimana bila mencoba menjadi Dewasa? kamu bahakan belum pernah mencoba bagaimana meredam emosimu, rin... tersenyum ketika orang menyakitimu.. atau sekedar diam menghela nafas.. dan berusaha memaafkan.. sulit? pasti. namun itu lebih baik daripada menyakiti dirimu dengan sifat" kekanak-kanakan yang hampir tidak dapat ditoleransi..."

Aku terdiam, membuka mata dan berusaha mengerti apa kata hatiku, menyaringnya dengan level otak selevel Otak Patrick Star...

Sepertinya memang Belajar untuk Dewasa, adalah pilihan terbaik.
setidaknya untuk melindungi diriku dari rasa sakit yang disebabkan segala pikiran egois =)

dan pe er saya berikutnya adalah.. meng upgrade otak agar setidaknya selevel dengan Einstein..
KeIdiot-an nya, setingkat di atas Patrick Star, bukan??

#nyengir
0 Comment
Kes(ia-empat)an
Semua didapatkan dengan perjuangan
Semua dibuang dengan metode penyia-nyiaan
Ketika isitirahat adalah kata tiga per empat mustahil bagi mereka
Kita tahu benar mereka menjerit
menangis, berteriak, menganga…
Bahkan tak punya cukup waktu untuk meratapi nasib
Namun tetap tak berubah ayalku menyia apa yang bisa kupunya

Aku tak mau bertukar nasib
Aku tidak senaif itu
Melihat mereka saja jantungku berdegup hancur

Bagaimana dengan kau?

Malaikat kecil tiba tiba saja datang
Dia tidak tersenyum, tidak pun murung
Membawa sapu berbulu
Menggaruk punggungmu yang bahkan kau tak tahu

Ya

Bahkan kau tak tahu

Baju baju baru itu beku
Bunga-bunga itu layu
Dan apa yang kau punya hanyalah tabu


0 Comment