“Kamu satu-satunya temanku” Siara mengecup Jepit rambut jingga, jepit rambut Ajaib, pemberian kesayangan.
Saat itu matahari memancarkan sinarnya tanpa segan, saat itu jepit rambut Siara masih berada di atas bantal, tepat disamping telapak tangan kecil yang menelungkup seperti boneka, satu-satunya hal yang mebuat tangan itu seperti manusia, hanya karna Siara bernafas berat, nafas berat yang lambat, yang panjang, yang bersuara.
Sinar matahari semakin terang, Siara masih terbaring di tempat tidurnya, meski matanya sudah terbuka, dengan perlahan Ia meringkup sembari meletakkan kedua telapak tangannya untuk menutup telinga, gadis kecil itu tidak ingin mendengar apapun, tidak bahkan suara nafasnya.
Ia masih berusaha menutup semua suara yang memasuki gendang telinganya, Siara membiarkan matanya terbuka, dia tidak bisa membiarkan matanya tertutup, dia harus melihat, meski dengan telinga tertutup dan badan meringkuk.
Jepit rambut itu tidak bergerak, suara-suara itu masih berarak, membuat Siara berharap untuk tuli sejenak.
Dia menyerah, telinga itu terbuka, jepit rambut itu kini di kepala.
Kaki mungil nan cantik menapaki lantai, meninggalkan tempat tidur, meninggalkan tempat berlindung, membuka pintu dengan sendu.
“Mamah, Papah”
“Sudah bangun, sayang”
..... (To be continued)
0 comments:
Post a Comment