Terimakasih Kepada Nissa
Saya mungkin tidak akan menemukan makhluk se spesial ini. kami saling tahu sejak SD. saya tidak begitu kenal, saya hanya Tau namanya icha, anak kelas B dan pintar. sedangkan saya, Irin anak kelas A dan biasa saja. Ketika SD, pelajaran Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan) Yang artinya adalah hari tidak belajar teori *di SD saya waktu itu* karena seharian hanya belajar Penjaskes di lapang (baca: olahraga (pengertian: main di lapang)) Olahraga *permainan* kesenangan kami pada saat itu adalah main Kasti *Bahasa Desa-nya Baseball* dan kelas A vs Kelas B selalu diakhiri pertengkaran. gitu lah anak kecil, kalau kalah ngamuk dan ga terima. maka saya sama icha juga musuhan setiap hari sabtu. kebetulan saat itu, saya dan icha adalah orang yang ngalungin bola. apa sih namanya? pitcher bukan? ya kalau salah ralat aja.
Icha selalu mendapatkan nilai baik. ketika lulus SD pun dia mendapat NEM yang lebih baik dari saya. meskipun, kami masuk ke SMP unggulan di Subang *SMPN 1 Subang* kami lagi-lagi beda kelas. Icha kelas A, saya kelas C. pembagian rapot pertama ketika SMP, saya dengar Icha ranking 1. saya juga! tapi saya ciut begitu dengar jumlah seluruh nilai nya. meski sama-sama peringkat pertama, jumlah nilai saya kalah. dan ini dipampang di insa *Majalah sekolah. INfo SpensA* Icha ada pada urutan ke-3 nilai tertinggi di sekolah. saya berada di urutan ke 8. kesal.
Kelas 2 SMP, ternyata kami se-kelas... kelas A. ya Tuhan... saingannya semakin banyak.. saya khawatir sulit mendapatkan peringkat pertama. dan memang saja. saya anteng di peringkat ke 3 selama 2 semester berturut-turut. tapi sekelas dengan Icha adalah hal yang menyenangkan. kami sama-sama penggila komik jepang. dia begitu menggilai Detektif Conan. dia hafal setiap episode *bahkan mungkin halaman* sebegitu cinta dengan Conan, dia menempel berbagai poster di kamarnya, juga hasil lukisannya. saya ingat pernah membuat ia menangis. karena memamerkan komik conan seri 41 yang sudah habis di tukang komik depan sekolah, yang pada akhirnya tetap saya harus mencari hingga dapat, untuk menghentikan tangisan Icha *dia tidak mau meminjam Conan, dia ingin punya* Icha ini sangat pintar melukis. bagi saya tangan dia adalah tangan ajaib. pintar membuat pernak-pernik, pintar melukis, tapi payah dalam memasak. hhu.
kelas 3 SMP kami dpersatukan lagi. sekelas. dan sebangku. Sungguh.. dia teman yang selalu menjadikan saya memiliki image galak dan suka marah-marah.. padahal dia yang suka memarahi saya *protes* Icha: pemalas yang Rajin, Beloon yang pintar, Pendiam yang Cerewet. dia sangat pandai di matematika, sedangkan saya timbul pada bahasa. Saya suka berdebat. Dia suka perhitungan dan logika. Dan diantara kami. tidak ada yang menyukai benda feminim.
Tapi Cerita saya dan Icha lebih dalam semenjak SMA. Dia dengan cerewetnya memarahi ketika saya hilang percaya diri, terdiam ketika saya menangis, tertawa ketika saya bahagia. Teman Perempuan pertama yang saya percaya bahwa iya benar-benar gembira ketika saya bahagia. tak ada rasa iri di dalamnya. karna saya pun begitu.
Saya sedikit benci ketika Lulus SMA, icha kuliah di jogja.. saya di Bandung.. Jurusan yang kami ambil cukup mengejutkan, Icha memilih Hubungan Internasional, Saya memilih Teknik Informatika. *ini tertukar sepertinya*, Hubungan persahabatan kami tidak banyak aturan. kami tidak sering chatting, sms ataupun telepon. tapi ketika bertemu kami cerita begitu banyak. dan berfoto. hhe
Pernah saya menelepon Icha, dalam keadaan setengah menangis. Icha mendengarkan dengan diam.. kemudian ia bicara "Rin, Maaf yah icha ga ada di sana"
Kalimat itu sungguh membunuh. semakin dalam saya menangis dalam syukur. terimakasih saya memiliki teman yang lebih dari teman. Dia adalah orang yang sangat mudah memarahi tanpa membenci. kesal tanpa mendendam. dia orang yang sedih ketika saya merasa terpuruk, marah ketika saya menangis, dan gembira ketika saya bahagia. Orang pertama yang saya yakini tidak ada perasaan untuk menjatuhkan saya. yang tidak membicarakan dibalik punggung. seorang wanita ceria dengan perasaan tulus.
Keadaan ini tidak seperti dulu.. ketika bahagia yang ingin saya bagi.. dengan cepat bisa saya bagi.ketika menangis.. Ketika bersama bercerita mimpi. kini kami berjalan pada garisnya masing-masing.. Melangkah menuju Kedewasaan. Meski jauh, saya harap hati kami masih terkait, saya harap kami masih terus mendoakan satu sama lain. Teman terbaik yang saya punya, saudara perempuan yang segala sifatnya bertolak belakang dengan saya. Nissa isalani, yang nanti akan menjadi Duta besar. Rininda Restu Trisuci, yang nanti akan menjadi penulis. kami akan meraih mimpi kami. tapi kami akan tetap melakukan hal bodoh yang menjadi kebiasaan kami: Berfoto *jangan tanya mengapa hal ini kebodohan bagi kami*
Hey kau di sana.. mari berlomba menuju garis finish mimpi.
Karena mimpi itu akan berakhir dan berubah nyata. Mari berjuang teman, sahabat, saudara, dan rival seumur hidupku... semoga akan tetap saling memarahi ketika salah satu merasa putus asa.
ku tunggu kau memarahiku, icha =)
Now We've Grown Up. but we will never forget those silly moments
