Ellisa
Mari kembali ke alam dongeng, di mana peri-peri kecil berterbangan dengan indahnya, rumput hijau sejauh mata memandang, dan bunga-bunga bermekaran. Ellisa, seorang putri dari kerajaan Laite, menyukai bunga dan berbagai tanaman lainnya, ia sungguh periang, cantik, dan pandai.
“Hai, peri kecil” Ucap Ellisa sembari mengulurkan tangan ke arah salah satu peri cantik.
Sang peri pun hinggap di telunjuk sang putri, dan bertanya “Ada apa wahai putri?”
“Mengapa aku tidak mempunyai sayap sepertimu?”
“Karna kau bukan peri”
“Tapi aku ingin menjadi mempunyai sayap” Ellisa memekik.
“Maka jadilah peri”
“Bagaimana?”
“Berimajinasilah, imajinasi mu nyata di sini” Sang peri pun berlalu.
Ellisa memejamkan matanya dan mulai berimajinasi, ia memikirkan dirinya terbang menembus awan, mengelilingi padang rumput dan taman bunga, kemudian ia membuka matanya, ia masih tidak memiliki sayap. Sang putri merasa dibohongi, ia menangis dan berteriak kesal.
“Mengapa kau menangis, wahai putri?” Seekor kelinci menghampiri.
“Aku ingin memiliki sayap” Ellisa masih menangis.
“Kau bisa memiliki apapun di sini, berimajinasi lah, imajinasimu nyata di sini”
“Kau bohong!” Ellisa berteriak. “Aku telah mencobanya beberap menit lalu, aku memejamkan mataku, dan aku tidak melihat perubahan secuilpun setelah aku membuka mata!” Teriakannya semakin tinggi “Semua penghuni di sini pembohong!”
Si kelinci mundur sepuluh langkah menjauhi Ellisa. “Putri, cobalah jangan memejamkan mata, nanti kau terbangun, jangan berteriak terlalu keras, nanti kau pergi”
“Apa maksudmu?”
“Lakukan semuanya dengan mata terbuka”
Tak! tiba-tiba tumbuh sayap di punggungnya, Ia senang bukan kepalang, Ia pun terbang berkeliling taman dan melambaikan tangannya ke arah si Kelinci.
“Jangan mengantuk!” teriak si kelinci. Ellisa mengangguk, ia bahkan tidak merasakan kantuk sedikitpun, namun tiba-tiba matanya kabur, ia merasakan gravitasi, ya gravitasi, ia kehilangan sayapnya.









Terdengar teriakan banyak manusia, juga tangis sepasang suami istri, karena putrinya, Ellisa, terjun dari lantai enam gedung pusat perbelanjaan.

0 Comment