Secarik Kertas untuk Tuhan

“Terimakasih kepada Tuhan, atas Rezeki hari ini” ucap seorang wanita berperawakan kurus sembari melahap makanan yang baru saja ia beli di kantin kampus.

“Sebutin lah nama Tuhannya, Lun”
Luna berhenti mengunyah, ia menatap Maya temannya, kemudian meletakkan sumpit mie ayam dan kembali menaikkan tangan ke arah dada “Terimakasih ya Allah, Tuhan Yesus, Bunda Maria, segala Dewa, dan lain lain. Amin.
“Kamu tuh Lun, berdoa masih aja sama banyak Tuhan” Maya mengomel sambil melahap bekal makanan yang dibawakan Ibunya.
“Alah, bicaramu itu seperti kamu manusia relijius aja, may”
For at least i believe in God, i have faith, and i go to Church, even i am not a religious person
Luna tertawa sinis
“Tetep yah, sinis yah Kamu”
Because i have faith, too, Maya. Aku hanya ga yakin aja sama semua agama yang aku tahu, that’s it, no more or less
“Atheis?”
Nope, i believe in God
Agnostic?”
“Apa pula itu, May? hahahha tau deh”
“Eh di KTP agama mu apa sih?”
“Maya, it is seriously none of you business, mind yours” Luna mengedipkan sebelah mata nya. Maya mengangkat bahu sambil terus mengunyah.


Kepada Tuhan yang kuyakini hanya satu
Aku tak tahu apa namamu, entah kau bernama atau tidak, karena manusia hanya mengarang namamu, membuat aturan mengatasnamakan Mu, tapi aku selalu percaya bahwa Kau memang benar-benar ada.
Tuhan, Kau tahu? banyak orang baik mati karena kelaparan, perang, dan dibunuh begitu saja? Kau tahu banyak orang jahat yang berumur panjang dan kaya raya? inikah hukumanmu karena manusia mengarang semua cerita atas keberadaan Mu? mendramatisir semua cara Mu agar mereka percaya keberadaan Mu?
Tuhan,
Kau tahu adikku terbunuh karena menjadi korban tabrak lari? apa dia bersama Mu sekarang?
Tuhan, tempat Mu dimana?
Tuhan,
tolong berhenti main-main dengan ciptaan Mu, Kau tahu benar manusia itu lemah, lama-lama dunia ini akan penuh dengan orang gila bila terus seperti ini.
Manusia tidak sekuat itu.

Aku berhenti menulis dan tersenyum. “Semoga Kau membaca ini, Tuhan” Orang lain berkata bahwa Tuhan mengetahui setiap apa yang kukatakan, kulakukan, entah di manapun aku berada, tapi aku tidak mau Tuhan melupakan apa yang kupikirkan, maka kutulis itu semua dalam secarik kertas.

“Tuhan, aku akan ke tempat Mu sekarang. Tolong jangan pura-pura tidak ada”

Aku naik ke kursi lab komputer, menempatkan kepalaku ke tambang yang kusiapkan. Tidak. Aku tidak bunuh diri, ini namanya bukan bunuh diri. Aku hanya ingin menyampaikan banyak hal kepada Tuhan agar dunia menjadi lebih baik. Suatu saat seluruh manusia akan berterimakasih atas apa yang kulakukan hari ini.
1 comments