Setulus Kasih Sayang mu
Aku adalah satu dari 3 Anak paling beruntung di dunia... karena aku dilahirkan dari rahim seorang wanita yang luar biasa. wanita yang memiliki kekuatan, kemandirian, dan kasih sayang yang tidak pernah habis... 

Aku adalah satu dari 3 anak paling beruntung di dunia.... karena ada kekuatan seorang pria yang melindungiku kemanapun aku pergi... sosok nyata dari arti kata kuat.... seoarang Pria dengan Kekuatan, dan kelembutan yang ia berikan kepada kami.

Papah adalah kekuatan Mamah...
Mamah adalah kekuatan Papah...
mereka adalah kekuatan kami..

Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara..  memiliki dua kakak perempuan yang istimewa. yang menyayangiku dan selalu memarahiku ketika aku menampakkan sisi kekanak-kanakkan ku. *aku mencintai kalian*

boleh kita kembali ke 12 tahun yang lalu?
aku rindu masa-masa itu...
aku berjanji akan menjadi irin yang lebih baik..

atau ke 15 tahun yang lalu?
supaya irin ga gunting poni sendiri...
ga coret-coret boneka barbie nya teteh fitri..
ga baca buku diary nya teh ari..
ga pake sendal papah..
ga bikin mamah marah..
hheee...

supaya bisa jadi irin yang lebih bisa dibanggakan buat semua

Mamah... kekuatan papah yang begitu istimewa. kekuatan kami. sumber kasih sayang kami selama hidup. mencintai kami dengan tulus... mamah sosok wantia yang begitu tegar, yang membuat hati kami sakit ketika melihat air mata nya menetes
Papah.. kekuatan mamah yang begitu kuat. kekuatan kami. alasan kami tidak takut menghadapi hidup, mengajarkan kami untuk selalu tegar, untuk tidak membiasakan mengeluh, untuk percaya terhadap kekuatan diri. sosok pria yang begitu hebat... yang membuat hati kami perih ketika melihat air mata nya menetes.

Teh Ari, Teh fitri...
Dua kakakku yang mengajariku berbagai hal dengan cara yang berbeda. dua perempuan istimewa. dua perempuan yang melindungiku.. dua perempuan yang kini telah menjadi ibu. Kalian ibu yang hebat.

I Love You All ......




Ingin aku persembahkan
semurni cinta mu
setulus kasih sayang mu
kau slalu ku cinta

(Sherina - Andai Aku Besar Nanti)




0 Comment
Teman Lama
                       Terlihat sepasang pria dan wanita yang sedang duduk berhadapan tertawa lepas, sambil melahap makanan yang ada di hadapan mereka. Di dalam sebuah kafe, mereka banyak berbicara. Menceritakan pekerjaan masing-masing, dan banyak hal.
“Udah lama banget yah” ucap Cherish. “Aku ga nyangka kamu inget detail juga, Van”
Evan ikut tertawa.
“Emang siapa bilang saya pelupa?” Evan kemudian menjawab.
“Hahaha.. bahkan kamu inget hal yang gak aku inget. Ga nyangka”
Tawa Cherish menyusul Evan.


***



“Cher.. maaf telat” Evan berucap dengan nafas terengah. Sementara cherish hanya merapatkan bibir dan menajamkan pandangan.
“Jangan marah dong cher.. kan kamu tahu saya ngapain aja. Ini saya juga ngeluangin waktu.. nyempet-nyempettin. Saya juga capek” Ucap evan tiba-tiba.
Cherish masih merapatkan bibir. Dan melangkah menjauh dan semakin menjauh.
Ini bukan pertama kalinya terjadi, Evan kemudian mengejar Cherish dan meraih pergelangan tangannya.
“Please, jangan marah” Evan semakin terengah.
Cherish membalikkan badannya menghadap Evan, kemudian tersenyum.
“Hmm.. Anterin aku pulang”
Pria itu mengangguk sambil tersenyum lega. Ia masih menggenggam tangan wanitanya menuju parkiran motor. Evan tersenyum memandang Cherish, begitu pun Cherish.

Cherish tinggal sendirian, Ayah dan Ibu nya bekerja di Malaysia. Sedikit tidak heran bila Cherish sering merasa kesepian.
“Masuk dulu Van?”
“Iya dong. Hauuuss”
“Hhaa.. iya sini masuk”
Keduanya memasuki rumah, Evan duduk di ruang tamu, sedangkan Cherish meneruskan langkahnya menuju dapur untuk membuatkan Evan es jeruk kesukaannya.
Tak lama Cherish membawa es jeruk beserta kotak besar dan album foto. Evan merasa aneh sambil tersenyum. “Apaan itu?”
“Ada deh” Jawab Cherish sambil meletakkan es jeruk ke meja.
Evan lalu meneguk Es jeruk buatan Cherish.
“Enak ga?” Tanya Cherish
“Kalau bilang ga enak gimana?”
“Keluar kamu dari sini!” Jawab Cherish cepat.
Keduanya tertawa keras. Evan melanjutkan meneguk es jeruk, sementara Cherish membuka kotak besar yang ia bawa.
“Wah, itu…” Evan terbelalak.
“Hhee… iyaaa” Cherish tersenyum. Kotak besar itu berisi berbagai barang yang mereka beli sejak mereka pertama kali bertemu. Sejak pertama kali mereka saling memandang dengan perasaan sayang. Tujuh tahun yang lalu. Berbagai benda dari karcis bioskop sampai tulisan-tulisan konyol, pernak-pernik, barang Evan yang pernah disangka hilang, semua ada di situ.
“Ah! Jam tangan ini” Evan meletakkan gelas berisi es jeruk ke meja, dan meraih Jam tangan yang ia pikir telah rusak dan tidak bisa diperbaiki. “Kamu nyimpen ini?”
Cherish mengangguk “Iya lah. Barang-barang kamu iniii… barang-barang kita maksudnya. Hhee.. daripada kamu buang, mendingan aku simpen”
“Saya Ga nyangka kamu telaten” Evan tampak terkesima. Cherish tertawa teresinggung “Tujuh tahun tuh kamu ga ngerti apa-apa tentang aku. Bodoh”
“Idih marah” Evan tertawa.
“Biarin” Cherish meneguk es jeruk buatannya.
“Ehhh itu minuman saya”
“Aku yang bikin! Biariiiiin”
Evan tertawa sambil merebut gelas yang dipegang Cherish. Cherish kemudian membuka Album foto, di dalamnya foto mereka berdua. Evan mendekatkan badannya ke album foto yang Cherish pegang.
“Eh liat, ganteng pisan —Sangat Ganteng— ini” Evan menunjuk dirinya di foto.
“Iya ganteng” ucap Cherish “Ini Lima tahun kemaren. Sekarang kamu tua. Tau?”
Cherish tertawa licik. Sementara Evan tersenyum gantung. (Senyum pengen gantung orang. hheee)
“Kalau ini cantik ga?” Tanya Cherish sambil menunjuk dirinya sendiri.
Evan terdiam beberapa detik. “Saya gak mau jawab”
“Kenapa?” Cherish penasaran.
“Kalau saya bohong saya dosa. Kalau saya jujur saya diusir dari sini”
Cherish mengepalkan tangannya. Evan buru-buru mengambil gelas dan menyodorkan ke Cherish “Minum.. minum… gaboleh emosi yah. Hahahaaa”

Mereka berbicara. Membicarakan banyak hal, dari diskusi politik, film, hingga artis dan segala cerita tidak bermutu. Hingga akhirnya cherish memutuskan untuk benar-benar berbicara.
“Van, kamu sayang sama aku?”
“Ya sayang lah.. masa engga” Jawabnya santai.
“Serius sama aku?”
“Ga ada alasan buat ga serius sayang” Evan menatap mata Cherish dengan tajam. “Kamu kenapa nanya yang gitu sih?”
“Emang kenapa?” Tanya Cherish
“Gak apa-apa sih, ya gak nyaman aja”
“Kenapa kamu gak nyaman?” desak Cherish.
“Kenapa jadi ngomongin ini sih?” Nada bicara Evan terdengar memang sedang sangat merasa tidak nyaman.
“Ya aku juga gak nyaman Van” Cherish menaikkan nadanya “Tujuh tahun gak ada kemajuan apa-apa”
“Maksud kamu apa?” Evan terlihat marah.
“Kamu gak berubah Van!” Cherish berkata cepat. “Kamu gak sayang sama aku Van”
“Omongan apa sih? Tiba-tiba kayak gini”
“Itu Van. Itu! Itu yang selalu kamu lakuin. Ngalihin pembicaraan kayak gitu yang aku gak suka. Kenapa? Bener udah ga sayang kan kamu?”
“Aku pulang yah. Ga bener ngobrol sama kamu keadaannya emosi kayak gini” Evan melangkah menuju pintu.
“Lari aja terus. Kamu pikir ninggalin obrolan kaya gini disebut dewasa? Nunggu aku kepalanya dingin itu dewasa? Pikir Van!”
“Ya udah. Kamu pengennya gimana?” Evan menurukan nada suaranya.
“Kamu sayang ga sih sama aku?”
Evan menahan nafas. “Sayaaaaaaaaaaaaang banget!”
Cherish tersenyum. Dia mengajak Evan untuk kembali duduk. Kini keduanya duduk berhadapan, saling menatap.
“Kamu tau aku maunya apa Van.. tapi kamu suka pura-pura gatau.. ngilang ga jelas, gimana aku ga ragu?”
“Ngilang ga jelas gimana maksudnya?”
“Kalau bahas bagian awal yang aku omongin gimana? Kenapa kamu pura-pura gak tahu? You pretending like a brat”
“Saya belum siap, Cher.. masih banyak yang…”
“Oke cukup” Sela Cherish.
“Tolong kamu ngerti”
“Aku ngerti Van. Tapi aku gak terima dengan segala sifat kamu yang egois kaya gitu”
“Jadi kamu gak mau nunggu?”
“Tujuh tahun van. Nunggu apa lagi? Umur aku berapa? Sekarang udah 24, mau kapan?”
“Kalau masalah umur, saya  aja yang umurnya…”
“Udah Van… cukup… saya perempuan, anda laki-laki.. umur laki-laki sama perempuan beda bandingannya”
“Maksud kamu apa?”
“Yah di umur ANDA yang MASIH 31 itu ANDA masih bisa santai, ya ANDA laki-laki” Cherish sedikit menahan nafas “Saya udah gak ngerti. Yang saya ngerti ini gabisa gini terus, kamu egois, masih sukanya main sama temen-temen kamu”
“Perempuan gak akan ngerti. Dengerin saya dulu”
“Iya gak ngerti jalan pikiran anda”
“bisa ga usah bilang ANDA”
Cherish terdiam.
“Kamu masih egois juga. Gimana bisa melangkah lebih jauh lagi?” Evan kembali berucap.
“Alasan apa itu? Orangtua aku udah nanyain van. Lagian aku juga sadar umur. Pengennya punya anak di usia produktif”
“Terserahlah. Aku emang gak baik buat kamu. Semoga kamu dapet laki-laki yang jauh lebih baik” Evan beranjak keluar. Dan menjalankan motornya.
Cherish melihat ia pergi dan tidak bisa berkata apa-apa, ia kemudia menutup pintu dan meraih bantal kursi ruang tamu. Air mata jatuh tanpa perintah.. pria yang ia berusaha mengerti, ternyata tidak ada niat untuk mempertahankan semua, untuk memastikan semua. Cherish memeluk bantal semakin erat sambil menangis keras.


***

“Jadi kamu udah punya anak sekarang?” Tanya Evan
“Iya, yang satu umurnya Lima Tahun, yang satu Dua Tahun” Jawab Cherish sambil tersenyum
“Hahahaa…” Evan tertawa
“Enam tahun itu cepet yah van, duduk di sini gak sengaja ketemu kamu”
“Iya, aku ada meeting di sini. Kamu sendirian?” ucap Evan
“Aku nunggu suami, Van. Kita janjian di sini, gimana kabar isteri kamu?”
“Baik. Ngurusin si kecil, umurnya 4 tahun”
“Nanti kenalin anak kita yah, anak kamu perempuan atau laki-laki?” Cheris mengerjapkan matanya
“Perempuan” jawab evan singkat
“Anak aku laki-laki.. hahaaaa”
“Ah anak saya gamau dikenalin ke anak kamu. Nanti kalau dia suka sama anak kamu bisa gawat”
Keduanya tertawa, hingga ada dua anak laki-laki menghampiri Cherish “Mamaaaa” Teriak dua anak itu.
Cheris memandang pintu Kafe dan mendapatkan suaminya di sana, ia tersenyum dan memangku anak bungsunya “Kenalin.. ini om evan”
Evan pun tersenyum dan memegang pipi anak bungsu Cherish.
“Sayang, kenalin ini Evan, teman kuliah, kita ketemu kebetulan, dia meeting di sini”
Radit, suami Cherish berjabat tangan dengan Evan.
“Yuk mau langsung? Ini dua jagoan udah ga sabar” ucap Radit
Cheris mengangguk. Ia beranjak dari kursinya.
“Duluan yah Van” ucapnya sambil melambaikan tangan. Evan pun tersenyum.


“Itu temen kuliah yang mana? Kok baru liat?” Tanya Radit
Cherish menerawang
       "Engga.. cuman temen lama.. jarang ketemu juga” Ucap Wanita itu sambil tersenyum.



3 comments
Bahkan mereka sebenarnya ingin menjadi manusia
Mengapa kau mengendus-endus urusan manusia lain seperti anjing mengendus bau daging
menggonggongi setiap hal aneh yang bahkan bukan urusanmu
mengapa kau mengendus masalah  orang lain seperti anjing menulusuri jejak maling
mengikuti setiap apa yang terlihat, pada akhirnya melukai manusia lain
mengapa kau melalaikan urusanmu seperti monyet yang mati kutu
menelantarkan apa yang harus kau atensikan malah diam tak ingat apa-apa
mengapa kau meninggalkan masalahmu seperti monyet memanjat tebing berbatu
melupakan apa yang harus diselesaikan dengat wajah seakan semua biasa saja
1 comments
Kesedeerhanaan?
Sederhana adalah hal paling rumit yang pernah saya coba untuk mengerti. bahagia dengan sederhana, sakit karna sederhana, mencintai dengan sederhana, melukai dengan sederhana... dan banyak kalimat lainnya yang bersangkutan dengan kesederhanaan. seperti sedang menonton opera, semua lakon manusia terlihat jelas dimana pun saya membuka mata. semua kerumitan ini sederhana, dan semua kesederhanaan ini begitu rumit.

Mata ini adalah kamera tercanggih yang saya miliki. ketika saya mencoba menatap segalanya dengan sederhana, saya menjadi orang ter-tidak dapat dimengerti siapapun. manusia paling egois yang mereka kenal.Karna ternyata apa yang saya anggap sederhana, tidak sejalan dengan definisi yang tertanam pada orang lain. alih-alih membawa dampak baik.

Banyak manusia yang menyatakan dirinya telah bahagia dengan sederhana, menikmati luka dengan sederhana. tanpa mereka sadari, mereka telah bahagia secara berlebihan, juga sedih secara berlebihan. luapan luapan partikel bahagia, kesedihan atau apapun itu, ter ekspresikan begitu gamblang dan terlalu sederhana untuk terlihat. sesungguhnya itu sama sekali bukan sederhana. itu hanya luapa ekspresi yang tidak terkontrol untuk ditahan.. karna dinikmati dengan tidak sederhana.

Ketika kita bisa mengontrol segala luapan emosi, baik itu negatif atau positif, menahan segalanya agar tidak merambah pada atmosfir lain, miliki semua rasa yg menggejolak itu sendiri atau dengan (hanya) orang yang dipercaya. bagiku itulah kesederhanaan. dimana kesederhanaan dapat mengontrol situasi sederhana yang berdampak rumit. karna kesederhanaan yang memunculkan kerumitan, hanya kesederhanaan fatamorgana. tidak nyata. hanya Indah di satu sisi.
4 comments
Hi!
Akhir-akhir ini posting tweet ga sebanyak dulu... ada temen .. Karin namanya (Hei kar! baca blog inih ga? hhee)yg merhatiin timeline terus nge sms "Rin, kenapa ko jarang nge tweet.. katanya pake android.. masa ga ada pulsa?" (Basicly, saya emang terkenal gapunya pulsa) ya trus dijawab "Gatau apa yang harus di tweet soalnya.. hhaaa =)" trus  dibales lagi "Dulu sering amat nge tweet hal remeh, apapun yang seru, yang garing, yang gapenting, tweet-tweet aja. sok sibuk ah LOL"

And it really makes me thinkin how a tweet addict i am.. sampe tweet belasan ribu =)) nge tweet ga selang se-jam. 

Tapi rada sadar sih.. frekuensinya ga sebanyak dulu. and she ask me why.. hmm kalau fb mah dari dulu juga udah jarang maenan kecuali group (Group juga jarang tapi)..  why dont i share everything in my twitter account? my sadness, my happiness. yah kecuali menuhin timeline sama tweet ga bermutu yang cuman ngobrol sama temen-temen SMA. i mean, its free to read.. no private conversation there.. *just in case, if u fell annoyed, im sorry. Less than three u guys*

Umm.. okay..
i know twitter and facebook are social media(s). i can share everything i wanted to, but either i can just have it and use in when i think i can share. i mean, i have damn Private Live! Kalau kesedihan emang jangan diumbar yah. Tapi ada satu kebahagian... yang i want to enjoy it myself. atau cerita langsung ke temen instead of twitter! hey i have friends!  in case i just try to anticipate peoples though. A Secret makes a Woman, Woman. i dont want  people to know how my life is goin, just because they've read my blog, twitter, fb, or another social media. i dont know, i just think my life so precious. haha... which i think... i dont have to tweet how my life is goin or what ive just did in hundreds of tweets. please then.. hundreds? one or two is quite normal err.. three it's okay.. okay, maximum is four... Five. okay done!

love u guys!
less than three <3 (btw, i know less than three from Ryan Higa Videos)
0 Comment
DECIDUOUS


Kucikakak…. Kukucikakak… kucikakak.. kukucikakak…

Gadis kecil itu menari di bawah pohon Deciduous.  Ia berputar menikmati setiap daun yang berguguran dan tertiup angin. Dengan gaun putih kesukaannya. Sesekali ia bersenandung dan tertawa, tanpa berhenti menari. Taman itu begitu sepi. Tak ada yang bisa menggangunya dari menari, dari bernyanyi, dari menikmati setiap semilir angin dan suara air mengalir di sungai. Pohon Deciduous itu tampaknya pohon deciduous terlebat, meski musim gugur ini sudah 2 minggu, daunnya tetap hampir tidak terlihat berkurang. Ajaib memang. Namun tidak banyak orang yang menyadari tempat ini.
Ia masih menari tanpa alas kaki. Rambutnya yang coklat kehitaman dibiarkan terurai, sesekali menutupi wajahnya karna teriup angin. Ketika senja semakin terlihat, ia mengakhiri tariannya dengan memeluk pohon. Gadis kecil itu terengah sambil tersenyum. Ia kemudian duduk bersandar, masih memejamkan mata.ia meluruskan kakinya.
Hari itu masih senja, gadis kecil menjinjing alas kaki nya dan mendekati sungai jernih yang berada dekat dari pohon tempat ia bersandar. Ia memandang wajahnya di atas air, dan bergumam “kucikakak, kukucikakak”.
Gaun putih itu menyapu guguran daun deciduous, sehingga semakin lama semakin memberatkan langkahnya untuk pulang.
“Mademoiselle” ucap seorang pria tua.
“Oui? Aku sudah harus pulang?”
“Monsieur Philippe menunggu” ucapnya sopan
“Mon oncle, je ne veux pas de rentrer chez— Paman, aku belum ingin pulang ” Gissele berkata Manja, sambil memeluk paman Lucas.
“Jangan membuat saya berbohong lagi pada Tuan” Paman Lucas menggendong gissele sambil berjalan menuju mobil.
“Vous n'êtes pas mon ami—Kau bukan temanku” Gissele memalingkan wajah. Paman Lucas hanya tersenyum. Ini hampir terjadi setiap hari ketika musim gugur. Dan ini berlangsung selama 3 tahun.
Bumi seakan berputar lebih cepat. Matahari sudah tidak terlihat.




“Papa” Gissele berlari memeluk Ayahnya ketika sampai di rumah. Tuan Phillipe kemudian menggendongnya sambil melambaikan tangan pada pembantu setia nya. Lucas. Sambil tersenyum.
“Apa ceritamu hari ini ma chérie?”Phillipe menggendong puteri semata wayang nya itu menuju kamar.
“Luar biasa! Aku menari sepanjang hari. Papa, kau tahu? Pohon itu bicara kepadaku” Ucapnya bersemangat sambil duduk di kasur bermotif Daun, kesayangannya. “Kemudian daun-daun itu mengiringi tarianku. Papa, aku sangat senang!”
“Vous ne voulez pas d’inviter vos amis?— Kau tidak ingin mengajak teman mu? — ma chérie?” Phillipe membelai rambut puterinya penuh kasih sayang
“Amis? — Teman? — Papa, Oncle— Paman—  Lucas temanku!”  Gissele terlihat marah. “Aku memiliki banyak teman di bawah pohon Deciduous”
Phillipe menghela nafas, ia tersenyum dan mengecup kening puterinya “Apapun untuk puteriku” ucapnya sambil berjalan keluar kamar.
Gissele memandang punggung Ayahnya yang menjauh. Ia beranjak dari kasur dan meraih gagang besi yang terpasang di tembok kamarnya. Kemudian ia berlatih balet. Tak lama, ia bejalan menuju meja belajarnya dan mengambil handy cam.
“Dear, Papa. Hari ini aku menari di bawah pohon Deciduous. Aku senang. Meski aku sendirian. Tapi pohon itu menemaniku! Seperti melindungiku, Papa. Aku selalu suka ketika daun gugur menyentuh kepalaku. Dan hidungku yang mulai kedinginan seperti ini” Gissele merekam dirinya sendiri. “Aku Tahu, Papa menginginkan aku bermain dengan teman-teman ku. Tapi tidak ada yang mau bermain dengan ku. Kau tahu? Aku selalu ditunjuk anak aneh, karena aku suka menari dan berputar di bawah pohon Deciduous. katanya aku terlalu kekanak-kanakan untuk gadis seumurku. aku sedih, Papa. Aku tahu aku tidak aneh”
Air mata mengalir membasahi pipi Gissele.
“Je Veux Maman—Aku ingin Ibu—“ Tangisannya semakin keras “Je Veux Maman—Aku ingin Ibu—“.. ia mengulanginya lagi, seakan berharap Ibunya akan hadir. “Dan aku tidak bisa hidup tanpa benda perekam ini Papa” Ucapnya sambil terisak “Setiap hari aku bertemu Oncle Lucas. Ia menceritakan padaku bagaimana aku selalu menghapus memoriku ketika aku tidur. dia mengingatkanku untuk merekam kejadian hari ini. Dan memperlihatkan video yang aku buat sore sebelumnya. Setiap pagi aku terpukul, papa! Bagaimana aku bisa tidak mengingat setiap hal yang aku lakukan? Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bermain di bawah pohon deciduous. Meski aku tahu aku hampir melakukannya setiap hari. Tapi aku tidak ingat, Papa. Je ne me Souviens pas dutout— Aku tidak mengingat apapun— Oncle Lucas berkata padaku bahwa aku berumur 10 Tahun. Bagaimana bisa aku berumur 10 Tahun? Yang aku ingat aku masih berumur 7 Tahun. Aku melihat teman-temanku begitu bertambah tinggi. Itu membuatku tidak ingin bercermin untuk melihat seluruh badanku. Aku 7 TAHUN PAPA! Aku tidak mengerti apa yang Paman Lucas katakan! Mengapa Paman bilang Maman-ibu- sudah meninggal? kecelakaan apa? kecelakaan apa? Dis-moi papa! -Katakan padaku, papa- Dis-moi! Aaaaaaaaaaaaaa”
Gissele berteriak histeris sambil memegang kepalanya.ia melempar benda-benda di dekatnya… hingga hanya ada dia dan selimut di atas kasur, menyudut, menunduk dan memeluk lutut, tanpa berhenti terisak. Setiap isak tangisnya menyuarakan kepedihan dan kebingungan.




“Monsieur” Ucap Lucas, mendapati tuannya menyandar di balik pintu kamar Gissele.
Phillipe terlihat begitu terpukul. “Puteriku. Lucas… ini salahku…” ia memukul tembok. Terlihat butir air mata keluar dari kelopak matanya.
“Ah! Tolong, Monsieur. Tidak ada yang meginginkan ini terjadi…” Lucas mengangkat Phillipe dari lantai. Ia juga terlihat sangat terpukul.
“Puteriku terlalu kecil untuk menerima penyakit seperti itu.. mengapa tidak aku saja? MENGAPA TIDAK AKU?” Phillipe kembali menunduk menyentuh lantai. “Lucas, besok kau tidak usah memberi tahunya, aku tidak bisa melihat dia begitu lagi… biarlah dia merasa dirinya berumur 7 tahun… biarlah dia tidak usah dipaksa mengerti tentang apapun… “
“Tapi, Monsieur…”
Phillipe Berdiri. “Dia puteriku, Lucas… biarkan dia merasa bahagia. Meski ini akan membunuhku”




3 Tahun sebelumnya

“Papa! Aku pergi bermain yah”
Phillipe menengok kepada Isterinya “Kalian mau kemana?” ucapnya lembut
“Seine. Kita akan berperahu dan bersepeda. Ayolah.. kau harus ikut”
“Aku harus bekerja… hari minggu nanti aku berjanji kita akan jalan-jalan keliling paris”
“Aku pegang kata-kata mu Monsieur” Ucap Victoria dengan nada menggoda.
“Ayo kita pergi, Maman” Gissele terdengar tidak sabar.
Phillipe memandang punggung Isteri dan puterinya yang menjauh.



“Monsieur, Ada telepon dari rumah sakit”
“Quoi?” Phillipe Tersentak. Ia menerima telepon itu dan mendengarkan dengan seksama tanpa kata. Ia tersungkur jatuh.



“Anda memiliki puteri bernama Gissele dan isteri anda bernama Victoria? Saat ini Puteri anda dalam keadaan kritis, pendarahan pada kepalanya sangat banyak. Namun tim kami sedang menanganinya… kami harap monsieur tenang. Namun maaf.. kami tidak bisa menyelamatkan isteri anda”

***
Nouvelles Hadline
3 desember 2002
Sebuah mobil truk menabrak mobil lanser silver, diduga pengendara truk tersebut sedang dalam pengaruh alcohol. Kecelakaan ini memakan 2 Korban. 1 korban meninggal (Victoria, 28 Tahun), dan 1 korban kritis (Gissele, 7 Tahun). Supir Truk selamat tanpa luka berat.
6 comments
Kirana
Kirana berjalan menelusuri trotoar di jalanan yang bising dengan kendaraan dan pedagang kaki lima. Ia berjalan setengah melamun. Melamuni apa yang terjadi... tik tok atau klik klok waktu semakin menepikan Jarak.

"Aku tegar" ucapnya "aku hanya sedang di titik terlelah" ia bergumam.

"Dan aku sedang merasa tidak berharga "
Kirana diam sejenak...
"Aku wanita"

#kiranapagi

posted from Bloggeroid

2 comments
Random
In case. We could know which one care and which one pretending to be.

Menggelikan bukan?
It really is.

Dalam hidup kita memang akan menemukan orang munafik. Dan kita harus terbiasa. Karna jumlah mereka banyak.

Just stand. Look every single molecule around u. Beware everything.

posted from Bloggeroid

0 Comment
Terimakasih Kepada Nissa
Saya mungkin tidak akan menemukan makhluk se spesial ini. kami saling tahu sejak SD. saya tidak begitu kenal, saya hanya Tau namanya icha, anak kelas B dan pintar. sedangkan saya, Irin anak kelas A dan biasa saja. Ketika SD, pelajaran Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan) Yang artinya adalah hari tidak belajar teori *di SD saya waktu itu* karena seharian hanya belajar Penjaskes di lapang (baca: olahraga (pengertian: main di lapang)) Olahraga *permainan* kesenangan kami pada saat itu adalah main Kasti *Bahasa Desa-nya Baseball* dan kelas A vs Kelas B selalu diakhiri pertengkaran. gitu lah anak kecil, kalau kalah ngamuk dan ga terima. maka saya sama icha juga musuhan setiap hari sabtu. kebetulan saat itu, saya dan icha adalah orang yang ngalungin bola. apa sih namanya? pitcher bukan? ya kalau salah ralat aja.

Icha selalu mendapatkan nilai baik. ketika lulus SD pun dia mendapat NEM yang lebih baik dari saya. meskipun, kami masuk ke SMP unggulan di Subang *SMPN 1 Subang* kami lagi-lagi beda kelas. Icha kelas A, saya kelas C. pembagian rapot pertama ketika SMP, saya dengar Icha ranking 1. saya juga! tapi saya ciut begitu dengar jumlah seluruh nilai nya. meski sama-sama peringkat pertama, jumlah nilai saya kalah. dan ini dipampang di insa *Majalah sekolah. INfo SpensA* Icha ada pada urutan ke-3 nilai tertinggi di sekolah. saya berada di urutan ke 8. kesal. 

Kelas 2 SMP, ternyata kami se-kelas... kelas A. ya Tuhan... saingannya semakin banyak.. saya khawatir sulit mendapatkan peringkat pertama. dan memang saja. saya anteng di peringkat ke 3 selama 2 semester berturut-turut. tapi sekelas dengan Icha adalah hal yang menyenangkan. kami sama-sama penggila komik jepang. dia begitu menggilai Detektif Conan. dia hafal setiap episode *bahkan mungkin halaman* sebegitu cinta dengan Conan, dia menempel berbagai poster di kamarnya, juga hasil lukisannya. saya ingat pernah membuat ia menangis. karena memamerkan komik conan seri 41 yang sudah habis di tukang komik depan sekolah, yang pada akhirnya tetap saya harus mencari hingga dapat, untuk menghentikan tangisan Icha *dia tidak mau meminjam Conan, dia ingin punya* Icha ini sangat pintar melukis. bagi saya tangan dia adalah tangan ajaib. pintar membuat pernak-pernik, pintar melukis, tapi payah dalam memasak. hhu.

kelas 3 SMP kami dpersatukan lagi. sekelas. dan sebangku. Sungguh.. dia teman yang selalu menjadikan saya memiliki image galak dan suka marah-marah.. padahal dia yang suka memarahi saya *protes* Icha: pemalas yang Rajin, Beloon yang pintar, Pendiam yang Cerewet. dia sangat pandai di matematika, sedangkan saya timbul pada bahasa. Saya suka berdebat. Dia suka perhitungan dan logika. Dan diantara kami. tidak ada yang menyukai benda feminim. 

Tapi Cerita saya dan Icha lebih dalam semenjak SMA. Dia dengan cerewetnya memarahi ketika saya hilang percaya diri, terdiam ketika saya menangis, tertawa ketika saya bahagia. Teman Perempuan pertama yang saya percaya bahwa iya benar-benar gembira ketika saya bahagia. tak ada rasa iri di dalamnya. karna saya pun begitu. 

Saya sedikit benci ketika Lulus SMA, icha kuliah di jogja.. saya di Bandung.. Jurusan yang kami ambil cukup mengejutkan, Icha memilih Hubungan Internasional, Saya memilih Teknik Informatika. *ini tertukar sepertinya*, Hubungan persahabatan kami tidak banyak aturan. kami tidak sering chatting, sms ataupun telepon. tapi ketika bertemu kami cerita begitu banyak. dan berfoto. hhe

Pernah saya menelepon Icha, dalam keadaan setengah menangis. Icha mendengarkan dengan diam.. kemudian ia bicara "Rin, Maaf yah icha ga ada di sana" 

Kalimat itu sungguh membunuh. semakin dalam saya menangis dalam syukur. terimakasih saya memiliki teman yang lebih dari teman. Dia adalah orang yang sangat mudah memarahi tanpa membenci. kesal tanpa mendendam. dia orang yang sedih ketika saya merasa terpuruk, marah ketika saya menangis, dan gembira ketika saya bahagia. Orang pertama yang saya yakini tidak ada perasaan untuk menjatuhkan saya. yang tidak membicarakan dibalik punggung. seorang wanita ceria dengan perasaan tulus.

Keadaan ini tidak seperti dulu.. ketika bahagia yang ingin saya bagi.. dengan cepat bisa saya bagi.ketika menangis.. Ketika bersama bercerita mimpi. kini kami berjalan pada garisnya masing-masing.. Melangkah menuju Kedewasaan. Meski jauh, saya harap hati kami masih terkait, saya harap kami masih terus mendoakan satu sama lain. Teman terbaik yang saya punya, saudara perempuan yang segala sifatnya bertolak belakang dengan saya. Nissa isalani, yang nanti akan menjadi Duta besar. Rininda Restu Trisuci, yang nanti akan menjadi penulis. kami akan meraih mimpi kami. tapi kami akan tetap melakukan hal bodoh yang menjadi kebiasaan kami: Berfoto *jangan tanya mengapa hal ini kebodohan bagi kami*

Hey kau di sana.. mari berlomba menuju garis finish mimpi.
Karena mimpi itu akan berakhir dan berubah nyata. Mari berjuang teman, sahabat, saudara, dan rival seumur hidupku... semoga akan tetap saling memarahi ketika salah satu merasa putus asa. 

ku tunggu kau memarahiku, icha =)

                               Now We've Grown Up. but we will never forget those silly moments


2 comments
Asa hilang
Manusia itu sempurna karna memilki kekurangan dan kelebihan. Nafsu dan logika, rasio dan iba. Pernah kamu memikirkan betapa mengerikannya manusia tanpa kelebihan? lebih buruk lagi: manusia tanpa kekurangan.Dunia ini tidak cukup indah bila dibandingkan dengan surga. namun mengapa pula harus dibandingkan? rasa sakit apapun tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan sakitnya siksa neraka. kenapa lagi harus ada komparasi? sifat alami manusia memang.. membandingkan yang jelas bukan perbandingannya. Membandingkan manusia satu dengan lain, yang sampai kapanpun tidak akan pernah sebanding.

Apa yang kalian Pikirkan? bukankah kalian manusia?

Akuilah bahwasanya semua manusia memiliki cobaannya sendiri. ujiannya masing-masing. yang tak kan lain mengerti. titik lemah.. ya titik lemah. setiap individu memilikinya. yang bisa kita lakukan bukan meng komparasi titik lemah kita dengan titik lemah orang lain. itu sia-sia. idealnya kita tahu titik lemah dan memperbaikinya dengan titik terkuat kita. kembali, itu hanya teori.

banyak hal yang bisa membuatmu menitikkan embun dari salah satu inderamu, merasa apatis dengan segala hal yang terjadi. apa ini? seharusnya kita tahu keputus-asaan adalah dosa. menangislah keras pada Nya. memohon bersimpuh dan berdoa hanya pada Nya... karena hanya di hadapan Allah, kita tidak perlu berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.
1 comments