Menyentuh tengkuk
Aku menjejak bumi tanpa menapak, mendengar segala tanya tanpa percik cahaya. ditanya ke mana pun aku tak tahu... seperti angin rindu menghembus tengkuk leher yang berambut tipis. semua berkata segalanya padaku. namun aku tak merasa memiliki ranah di manapun.

Tak pernah kumengerti arti menyesal selama ku hidup... sebelum aku mengijaki waktu ini. aku tak mengerti arti mustahil sebelum ini. entah kini aku menapaki realita atau selama ini aku yang hidup pada alamku sendiri. Namun batas itu terlihat lebih jelas. Tak ada tanya yang bisa ku jawab. aku tidak bisa berfikir. Aku ingin pergi jauh dari sini.
0 Comment
Kita
Orang-orang Indonesia yang suka baca novel atau nonton ke bioskop.. pasti udah sangat apal kalau saya bilang kata "5cm". iya lah. emang ceritanya oke. pisan.

tapi saya di sini bukan mau bahas 5cm... 

saya baru ngeh kalau geng "mulmed" atau "power rangers" yang saya punya itu be 5 juga. ahihihihi
4 cowok + 1 cewek
tapi ga ada satupun dari kita yang bahkan mendekati saja enggak.. kalau disama-samain karakter di 5cm
ga ada Arial yang badan nya gede (Silahkan cek)
ga ada ian yang badannya gendut (Silahkan cek)
ga ada genta yang keren dan kece (ini saya berani ngasih garansi. GA ADA YANG KEREN. HAHAHHA)
ga ada Juple yang puitis abis (no and no)
nah sosok Riani.. satu2 nya cewek di geng itu juga ga ada mirip-mirip nya sama saya. 
dan yang yang paling jelas ga da chemistry2 kayak genta sama riani sama juple. hahaha bocor semuah =))

kita belum pernah naik gunung bareng (gunung apapun)
tememnan belum nyampe 10 taun (Kenal baru pas kuliah)

tapi mereka lah yang sangat tau gimana saya lagi bete, lagi marah, lagi nangis pengen nyerah, dan meng-amin-i keinginan konyol saya. (Misal: pengen jalan-jalan ke Kebun Binatang badung pas lagi bulan puasa. hasilnya? cape berat! hahahhaa)

Merekan juga yang jadi motivasi besar pas ngerjain TA. karna mereka rajin pisan sebagai cowok. dan saya kan perempuan. jadi rasa gak boleh kalah itu sangat besar! hehehee.. yang menyenangkan adalah kita wisuda bareng.. lulus tepat waktu... dan Alhamdulillah sekarang punya kerja semua...

Begitu lulus kita kepisah-pisah jarak... sama waktu sih.. 
Roni-Jon-Saya. kita kerja di bandung dan tetep jarang ketemu
febri di tangerang
Uda rizky di bandung juga kuliah

saya sih yakin nya...
walau kita jarang komunikasi banget.. jarang ketemu... tapi kita tetep temenan.. temenan power rangers.
ga usah sering-sering sms an...
sering-sering ketemuan

tapi kita tahu, kalau ada bahagia yang bisa dibagi... kita bagi ke siapa...
kalau ada masalah yang pengen diceritain... kita cerita ke siapa...

Go Go Power Rangers!
0 Comment
Mariyat
Ibu Gilan tertawa... seperti anak raya kehilangan dusta di mata sang pemenggal tahta
yacusa melihat semuanya enggan tentram dan terbelai beningnya mebun sempoyongan di kota mariyat. tidak.. tidak begini cerita dimulai...

Ara memapah senja pada pemiliknya
tepat saat awan dengan berkala bergabung dengan kawanan angin
0 Comment
Power Rangers
Hey.
Apa kabar?

Aku yakin kalian baik-baik saja... toh selama ini kita berkomunikasi melalui internet dan kalian sangat ceria. jelas saja.. kalian teman-teman hebat yang ku punya! *dengan ke-konslet-an yang kalian punya*
Hanya saja...
Kadang terlintas rekaman lama saat kita masih memakai sepatu kets berjalan ke kampus menyandang nama Mahasiswa.

dari syuting di kampus, sampai foto-foto di museum geologi...
dan meng Amin-i keinginanku main ke Kebun Binatang Bandung di bulan puasa yang bikin kaki pegel..
Dan ngebut belajar di H-1 Sidang
but all of the so much worth it! thank you guys... 

Go Go Power Rangers!

Foto ini di edit sama Febry. Mantap Feb!

2 comments
Menuris

Semua nya kasat
Namun matamu tak melihat
Ini menuris sisi ketakutan yang terkoyak larik kata
Dia tak melakukan apa-apa
Naluri itu membesi
Meraba apa yang tak kau tahu
Menikam hati gadis kecil yang bahkan menjaga segala inginnya
Ia melangkah berarah
hanya
dia pun bisa merepih mati
0 Comment
My Another 5 Bab
Saya suka nulis...  tapi TA 5 Bab belom beres...
tapi jadinya inspiratif , mau bikin cerpen 5 bab.. 
eh cerbung berarti yah? romantis gt yg kepikiran
gaya nya belom ngeh sih.. sambil dijalanin ajaa...
mau di postiiing di sini semuanyaaa...

read and comment yah... bisa juga guessing to the next chapter... 
1st chapter will come soon... =)
0 Comment
Setulus Kasih Sayang mu
Aku adalah satu dari 3 Anak paling beruntung di dunia... karena aku dilahirkan dari rahim seorang wanita yang luar biasa. wanita yang memiliki kekuatan, kemandirian, dan kasih sayang yang tidak pernah habis... 

Aku adalah satu dari 3 anak paling beruntung di dunia.... karena ada kekuatan seorang pria yang melindungiku kemanapun aku pergi... sosok nyata dari arti kata kuat.... seoarang Pria dengan Kekuatan, dan kelembutan yang ia berikan kepada kami.

Papah adalah kekuatan Mamah...
Mamah adalah kekuatan Papah...
mereka adalah kekuatan kami..

Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara..  memiliki dua kakak perempuan yang istimewa. yang menyayangiku dan selalu memarahiku ketika aku menampakkan sisi kekanak-kanakkan ku. *aku mencintai kalian*

boleh kita kembali ke 12 tahun yang lalu?
aku rindu masa-masa itu...
aku berjanji akan menjadi irin yang lebih baik..

atau ke 15 tahun yang lalu?
supaya irin ga gunting poni sendiri...
ga coret-coret boneka barbie nya teteh fitri..
ga baca buku diary nya teh ari..
ga pake sendal papah..
ga bikin mamah marah..
hheee...

supaya bisa jadi irin yang lebih bisa dibanggakan buat semua

Mamah... kekuatan papah yang begitu istimewa. kekuatan kami. sumber kasih sayang kami selama hidup. mencintai kami dengan tulus... mamah sosok wantia yang begitu tegar, yang membuat hati kami sakit ketika melihat air mata nya menetes
Papah.. kekuatan mamah yang begitu kuat. kekuatan kami. alasan kami tidak takut menghadapi hidup, mengajarkan kami untuk selalu tegar, untuk tidak membiasakan mengeluh, untuk percaya terhadap kekuatan diri. sosok pria yang begitu hebat... yang membuat hati kami perih ketika melihat air mata nya menetes.

Teh Ari, Teh fitri...
Dua kakakku yang mengajariku berbagai hal dengan cara yang berbeda. dua perempuan istimewa. dua perempuan yang melindungiku.. dua perempuan yang kini telah menjadi ibu. Kalian ibu yang hebat.

I Love You All ......




Ingin aku persembahkan
semurni cinta mu
setulus kasih sayang mu
kau slalu ku cinta

(Sherina - Andai Aku Besar Nanti)




0 Comment
Teman Lama
                       Terlihat sepasang pria dan wanita yang sedang duduk berhadapan tertawa lepas, sambil melahap makanan yang ada di hadapan mereka. Di dalam sebuah kafe, mereka banyak berbicara. Menceritakan pekerjaan masing-masing, dan banyak hal.
“Udah lama banget yah” ucap Cherish. “Aku ga nyangka kamu inget detail juga, Van”
Evan ikut tertawa.
“Emang siapa bilang saya pelupa?” Evan kemudian menjawab.
“Hahaha.. bahkan kamu inget hal yang gak aku inget. Ga nyangka”
Tawa Cherish menyusul Evan.


***



“Cher.. maaf telat” Evan berucap dengan nafas terengah. Sementara cherish hanya merapatkan bibir dan menajamkan pandangan.
“Jangan marah dong cher.. kan kamu tahu saya ngapain aja. Ini saya juga ngeluangin waktu.. nyempet-nyempettin. Saya juga capek” Ucap evan tiba-tiba.
Cherish masih merapatkan bibir. Dan melangkah menjauh dan semakin menjauh.
Ini bukan pertama kalinya terjadi, Evan kemudian mengejar Cherish dan meraih pergelangan tangannya.
“Please, jangan marah” Evan semakin terengah.
Cherish membalikkan badannya menghadap Evan, kemudian tersenyum.
“Hmm.. Anterin aku pulang”
Pria itu mengangguk sambil tersenyum lega. Ia masih menggenggam tangan wanitanya menuju parkiran motor. Evan tersenyum memandang Cherish, begitu pun Cherish.

Cherish tinggal sendirian, Ayah dan Ibu nya bekerja di Malaysia. Sedikit tidak heran bila Cherish sering merasa kesepian.
“Masuk dulu Van?”
“Iya dong. Hauuuss”
“Hhaa.. iya sini masuk”
Keduanya memasuki rumah, Evan duduk di ruang tamu, sedangkan Cherish meneruskan langkahnya menuju dapur untuk membuatkan Evan es jeruk kesukaannya.
Tak lama Cherish membawa es jeruk beserta kotak besar dan album foto. Evan merasa aneh sambil tersenyum. “Apaan itu?”
“Ada deh” Jawab Cherish sambil meletakkan es jeruk ke meja.
Evan lalu meneguk Es jeruk buatan Cherish.
“Enak ga?” Tanya Cherish
“Kalau bilang ga enak gimana?”
“Keluar kamu dari sini!” Jawab Cherish cepat.
Keduanya tertawa keras. Evan melanjutkan meneguk es jeruk, sementara Cherish membuka kotak besar yang ia bawa.
“Wah, itu…” Evan terbelalak.
“Hhee… iyaaa” Cherish tersenyum. Kotak besar itu berisi berbagai barang yang mereka beli sejak mereka pertama kali bertemu. Sejak pertama kali mereka saling memandang dengan perasaan sayang. Tujuh tahun yang lalu. Berbagai benda dari karcis bioskop sampai tulisan-tulisan konyol, pernak-pernik, barang Evan yang pernah disangka hilang, semua ada di situ.
“Ah! Jam tangan ini” Evan meletakkan gelas berisi es jeruk ke meja, dan meraih Jam tangan yang ia pikir telah rusak dan tidak bisa diperbaiki. “Kamu nyimpen ini?”
Cherish mengangguk “Iya lah. Barang-barang kamu iniii… barang-barang kita maksudnya. Hhee.. daripada kamu buang, mendingan aku simpen”
“Saya Ga nyangka kamu telaten” Evan tampak terkesima. Cherish tertawa teresinggung “Tujuh tahun tuh kamu ga ngerti apa-apa tentang aku. Bodoh”
“Idih marah” Evan tertawa.
“Biarin” Cherish meneguk es jeruk buatannya.
“Ehhh itu minuman saya”
“Aku yang bikin! Biariiiiin”
Evan tertawa sambil merebut gelas yang dipegang Cherish. Cherish kemudian membuka Album foto, di dalamnya foto mereka berdua. Evan mendekatkan badannya ke album foto yang Cherish pegang.
“Eh liat, ganteng pisan —Sangat Ganteng— ini” Evan menunjuk dirinya di foto.
“Iya ganteng” ucap Cherish “Ini Lima tahun kemaren. Sekarang kamu tua. Tau?”
Cherish tertawa licik. Sementara Evan tersenyum gantung. (Senyum pengen gantung orang. hheee)
“Kalau ini cantik ga?” Tanya Cherish sambil menunjuk dirinya sendiri.
Evan terdiam beberapa detik. “Saya gak mau jawab”
“Kenapa?” Cherish penasaran.
“Kalau saya bohong saya dosa. Kalau saya jujur saya diusir dari sini”
Cherish mengepalkan tangannya. Evan buru-buru mengambil gelas dan menyodorkan ke Cherish “Minum.. minum… gaboleh emosi yah. Hahahaaa”

Mereka berbicara. Membicarakan banyak hal, dari diskusi politik, film, hingga artis dan segala cerita tidak bermutu. Hingga akhirnya cherish memutuskan untuk benar-benar berbicara.
“Van, kamu sayang sama aku?”
“Ya sayang lah.. masa engga” Jawabnya santai.
“Serius sama aku?”
“Ga ada alasan buat ga serius sayang” Evan menatap mata Cherish dengan tajam. “Kamu kenapa nanya yang gitu sih?”
“Emang kenapa?” Tanya Cherish
“Gak apa-apa sih, ya gak nyaman aja”
“Kenapa kamu gak nyaman?” desak Cherish.
“Kenapa jadi ngomongin ini sih?” Nada bicara Evan terdengar memang sedang sangat merasa tidak nyaman.
“Ya aku juga gak nyaman Van” Cherish menaikkan nadanya “Tujuh tahun gak ada kemajuan apa-apa”
“Maksud kamu apa?” Evan terlihat marah.
“Kamu gak berubah Van!” Cherish berkata cepat. “Kamu gak sayang sama aku Van”
“Omongan apa sih? Tiba-tiba kayak gini”
“Itu Van. Itu! Itu yang selalu kamu lakuin. Ngalihin pembicaraan kayak gitu yang aku gak suka. Kenapa? Bener udah ga sayang kan kamu?”
“Aku pulang yah. Ga bener ngobrol sama kamu keadaannya emosi kayak gini” Evan melangkah menuju pintu.
“Lari aja terus. Kamu pikir ninggalin obrolan kaya gini disebut dewasa? Nunggu aku kepalanya dingin itu dewasa? Pikir Van!”
“Ya udah. Kamu pengennya gimana?” Evan menurukan nada suaranya.
“Kamu sayang ga sih sama aku?”
Evan menahan nafas. “Sayaaaaaaaaaaaaang banget!”
Cherish tersenyum. Dia mengajak Evan untuk kembali duduk. Kini keduanya duduk berhadapan, saling menatap.
“Kamu tau aku maunya apa Van.. tapi kamu suka pura-pura gatau.. ngilang ga jelas, gimana aku ga ragu?”
“Ngilang ga jelas gimana maksudnya?”
“Kalau bahas bagian awal yang aku omongin gimana? Kenapa kamu pura-pura gak tahu? You pretending like a brat”
“Saya belum siap, Cher.. masih banyak yang…”
“Oke cukup” Sela Cherish.
“Tolong kamu ngerti”
“Aku ngerti Van. Tapi aku gak terima dengan segala sifat kamu yang egois kaya gitu”
“Jadi kamu gak mau nunggu?”
“Tujuh tahun van. Nunggu apa lagi? Umur aku berapa? Sekarang udah 24, mau kapan?”
“Kalau masalah umur, saya  aja yang umurnya…”
“Udah Van… cukup… saya perempuan, anda laki-laki.. umur laki-laki sama perempuan beda bandingannya”
“Maksud kamu apa?”
“Yah di umur ANDA yang MASIH 31 itu ANDA masih bisa santai, ya ANDA laki-laki” Cherish sedikit menahan nafas “Saya udah gak ngerti. Yang saya ngerti ini gabisa gini terus, kamu egois, masih sukanya main sama temen-temen kamu”
“Perempuan gak akan ngerti. Dengerin saya dulu”
“Iya gak ngerti jalan pikiran anda”
“bisa ga usah bilang ANDA”
Cherish terdiam.
“Kamu masih egois juga. Gimana bisa melangkah lebih jauh lagi?” Evan kembali berucap.
“Alasan apa itu? Orangtua aku udah nanyain van. Lagian aku juga sadar umur. Pengennya punya anak di usia produktif”
“Terserahlah. Aku emang gak baik buat kamu. Semoga kamu dapet laki-laki yang jauh lebih baik” Evan beranjak keluar. Dan menjalankan motornya.
Cherish melihat ia pergi dan tidak bisa berkata apa-apa, ia kemudia menutup pintu dan meraih bantal kursi ruang tamu. Air mata jatuh tanpa perintah.. pria yang ia berusaha mengerti, ternyata tidak ada niat untuk mempertahankan semua, untuk memastikan semua. Cherish memeluk bantal semakin erat sambil menangis keras.


***

“Jadi kamu udah punya anak sekarang?” Tanya Evan
“Iya, yang satu umurnya Lima Tahun, yang satu Dua Tahun” Jawab Cherish sambil tersenyum
“Hahahaa…” Evan tertawa
“Enam tahun itu cepet yah van, duduk di sini gak sengaja ketemu kamu”
“Iya, aku ada meeting di sini. Kamu sendirian?” ucap Evan
“Aku nunggu suami, Van. Kita janjian di sini, gimana kabar isteri kamu?”
“Baik. Ngurusin si kecil, umurnya 4 tahun”
“Nanti kenalin anak kita yah, anak kamu perempuan atau laki-laki?” Cheris mengerjapkan matanya
“Perempuan” jawab evan singkat
“Anak aku laki-laki.. hahaaaa”
“Ah anak saya gamau dikenalin ke anak kamu. Nanti kalau dia suka sama anak kamu bisa gawat”
Keduanya tertawa, hingga ada dua anak laki-laki menghampiri Cherish “Mamaaaa” Teriak dua anak itu.
Cheris memandang pintu Kafe dan mendapatkan suaminya di sana, ia tersenyum dan memangku anak bungsunya “Kenalin.. ini om evan”
Evan pun tersenyum dan memegang pipi anak bungsu Cherish.
“Sayang, kenalin ini Evan, teman kuliah, kita ketemu kebetulan, dia meeting di sini”
Radit, suami Cherish berjabat tangan dengan Evan.
“Yuk mau langsung? Ini dua jagoan udah ga sabar” ucap Radit
Cheris mengangguk. Ia beranjak dari kursinya.
“Duluan yah Van” ucapnya sambil melambaikan tangan. Evan pun tersenyum.


“Itu temen kuliah yang mana? Kok baru liat?” Tanya Radit
Cherish menerawang
       "Engga.. cuman temen lama.. jarang ketemu juga” Ucap Wanita itu sambil tersenyum.



3 comments
Bahkan mereka sebenarnya ingin menjadi manusia
Mengapa kau mengendus-endus urusan manusia lain seperti anjing mengendus bau daging
menggonggongi setiap hal aneh yang bahkan bukan urusanmu
mengapa kau mengendus masalah  orang lain seperti anjing menulusuri jejak maling
mengikuti setiap apa yang terlihat, pada akhirnya melukai manusia lain
mengapa kau melalaikan urusanmu seperti monyet yang mati kutu
menelantarkan apa yang harus kau atensikan malah diam tak ingat apa-apa
mengapa kau meninggalkan masalahmu seperti monyet memanjat tebing berbatu
melupakan apa yang harus diselesaikan dengat wajah seakan semua biasa saja
1 comments
Kesedeerhanaan?
Sederhana adalah hal paling rumit yang pernah saya coba untuk mengerti. bahagia dengan sederhana, sakit karna sederhana, mencintai dengan sederhana, melukai dengan sederhana... dan banyak kalimat lainnya yang bersangkutan dengan kesederhanaan. seperti sedang menonton opera, semua lakon manusia terlihat jelas dimana pun saya membuka mata. semua kerumitan ini sederhana, dan semua kesederhanaan ini begitu rumit.

Mata ini adalah kamera tercanggih yang saya miliki. ketika saya mencoba menatap segalanya dengan sederhana, saya menjadi orang ter-tidak dapat dimengerti siapapun. manusia paling egois yang mereka kenal.Karna ternyata apa yang saya anggap sederhana, tidak sejalan dengan definisi yang tertanam pada orang lain. alih-alih membawa dampak baik.

Banyak manusia yang menyatakan dirinya telah bahagia dengan sederhana, menikmati luka dengan sederhana. tanpa mereka sadari, mereka telah bahagia secara berlebihan, juga sedih secara berlebihan. luapan luapan partikel bahagia, kesedihan atau apapun itu, ter ekspresikan begitu gamblang dan terlalu sederhana untuk terlihat. sesungguhnya itu sama sekali bukan sederhana. itu hanya luapa ekspresi yang tidak terkontrol untuk ditahan.. karna dinikmati dengan tidak sederhana.

Ketika kita bisa mengontrol segala luapan emosi, baik itu negatif atau positif, menahan segalanya agar tidak merambah pada atmosfir lain, miliki semua rasa yg menggejolak itu sendiri atau dengan (hanya) orang yang dipercaya. bagiku itulah kesederhanaan. dimana kesederhanaan dapat mengontrol situasi sederhana yang berdampak rumit. karna kesederhanaan yang memunculkan kerumitan, hanya kesederhanaan fatamorgana. tidak nyata. hanya Indah di satu sisi.
4 comments